Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Laporan Mingguan

Danareksa Debt Research Weekly Report, Minggu III Januari 2020
January 20, 2020 12:21 WIB

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Penandatanganan kesepakatan damai dagang AS-China, laporan tentang penghapusan China dari daftar currency manipulator oleh AS, dan rilis data ekonomi China yang sejalan dengan ekspektasi pasar, menjadi poin utama kinerja pasar minggu lalu. Kesepakatan dagang AS dengan China utamanya mencakup upaya pencegahan pencurian hak kepemilikan intelektual, dan pemaksaan transfer teknologi, disamping komitmen China yang akan meningkatkan pembelian produk dari AS. China sepakat mengimpor produk dari AS senilai USD 200 miliar dalam 2 tahun ke depan, dengan komposisi: produk manufaktur (USD 32,9 miliar 2020 dan USD 44,8 miliar 2021), produk pertanian (USD 12,5 miliar 2020 dan USD 19,5 miliar 2021), produk energi (USD 18,5 miliar 2020 dan USD 33,9 miliar 2021), dan jasa (USD 12,8 miliar 2020 dan USD 25,1 miliar 2021).

  Dari domestik, BPS mengumumkan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia bulan Desember 2019. Nilai ekspor dan impor Indonesia di bulan Desember 2019 tercatat masing-masing mencapai USD 14,4 miliar (+3,8% mom) dan USD 14,5 miliar (-5,5% mom). Perkembangan ini membawa defisit perdagangan Desember 2019 turun menjadi USD 28,2 juta dari defisit USD 1,39 miliar di bulan sebelumnya. Untuk periode Jan-Des 2019, defisit perdagangan Indonesia mencapai USD 3,19 miliar, menurun dibandingkan defisit tahun 2018 sebesar USD 8,69 miliar.

Dari ekonomi Jepang, harga barang dan jasa di tingkat produsen meningkat 0,9% yoy di bulan Desember 2019, menyusul 0,1% yoy di bulan sebelumnya. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok produk makanan dan minuman, perlengkapan transportasi, serta mesin produksi.

Indikator Japan machinery orders bulan November 2019 melesat 18,0% mom (+ 3,2% mom ekspektasi), menyusul penurunan 6,0% di bulan sebelumnya. Belanja modal perusahaan Jepang meningkat terutama didorong dari sektor makanan dan minuman, besi dan baja, produk metal, serta perlengkapan informasi dan komunikasi. Secara tahunan, indikator ini tumbuh 5,3% yoy, pasca menurun 6,1% yoy di periode sebelumnya.

Dari ekonomi Eropa, harga barang dan jasa meningkat 0,3% mom di bulan Desember 2019, menyusul penurunan 0,3% mom. Harga komponen energi (+0,2%) dan non energi (+0,5%) tercatat berakselerasi. Secara tahunan, laju inflasi meningkat dari 1,0% yoy menjadi 1,3% yoy.

Dari ekonomi China, GDP China Q4 2019 tumbuh stabil 6,0% yoy, seperti halnya kuartal sebelumnya. Kinerja ekonomi ini merupakan pertumbuhan paling lambat sejak Q1 1992, seiring lesunya konsumsi domestik dan permintaan global. Untuk satu tahun penuh, FY 2019, ekonomi China tumbuh 6,1%, terendah dalam 29 tahun, meski tetap dalam rentang target pemerintah di kisaran 6,0-6,5%.

Investasi aset tetap China tumbuh berakselerasi 5,4% menjadi CNY 55,15 triliun pada periode Januari-Desember 2019, melebihi pertumbuhan pada periode sebelumnya sebesar 5,2%, dan konsensus pasar (+5,2%). Output industri China tumbuh 6,9% yoy di bulan Desember 2019, lebih cepat dari bulan sebelumnya sebesar 6,2%, ditopang kenaikan output sektor manufaktur, pertambangan dan utilitas. Di sektor konsumen, penjualan retail China tumbuh stabil 8,0% yoy (vs +7,8% ekspektasi) di bulan Desember 2019 seperti bulan sebelumnya. Belanja konsumen meningkat untuk produk garmen, kosmetik, perhiasan, perlengkapan rumah tangga, dan furniture.

Nilai ekspor dan impor China bulan Desember 2019 tercatat meningkat masing-masing menjadi USD 237,65 miliar (+7,6% yoy) dan USD 190,85 miliar (+16,3% yoy). Melesatnya impor membawa surplus perdagangan China turun dari USD 56,80 miliar menjadi USD 46,79 miliar (vs surplus USD 48,0 miliar ekspektasi).

Dari sisi ekonomi AS, penjualan retail bulan Desember 2019 berhasil tumbuh stabil 0,3% mom, seperti halnya bulan sebelumnya. Kenaikan belanja retail terjadi pada produk makanan minuman, pakaian, elektronik, dan BBM. Secara tahunan, penjualan retail AS tumbuh berakselerasi menjadi 5,8% yoy, dari 3,3% yoy di bulan sebelumnya. Untuk satu tahun penuh FY 2019, belanja konsumen tumbuh 3,6%. 

 Laju inflasi bulanan AS sedikit melambat dari 0,3% mom menjadi 0,2% mom di bulan Desember 2019. Namun, secara tahunan, harga barang dan jasa di tingkat konsumen meningkat dari 2,1% yoy menjadi 2,3% yoy, atau level tertinggi dalam 14 bulan. Kenaikan bulanan tertinggi terjadi pada kelompok produk BBM, perumahan dan kesehatan. 

Di sektor usaha menengah, indikator NFIB Small Business Optimism Index turun dari 104,7 menjadi 102,7 di bulan Desember 2019. Optimisme pebisnis UMKM AS sedikit menurun, seiring ekspektasi penjualan dan laba yang lebih rendah. Hal ini terkait kekhawatiran meningkatnya ketidakpastian di tahun politik.

Di sektor tenaga kerja AS, klaim tunjangan pengangguran (per 11 Januari 2020) menurun 10 ribu aplikasi menjadi 204 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya mencapai 216.250 aplikasi, atau masih tercatat lebih rendah dari rerata periode 1967-2020 sebanyak 350.760 aplikasi.

Dari sektor perumahan AS, indikator NAHB Housing Market Index sedikit menurun ke level 75 dibulan Januari 2020, dari level 76 dibulan sebelumnya. Optimisme pengembang perumahan cenderung stabil seiring tingkat bunga pinjaman yang rendah dan pasar tenaga kerja AS yang solid, yang menopang permintaan rumah tetap tinggi. Pembangunan rumah baru (housing starts) tumbuh 16,9% mom menjadi 1,61 juta unit (SA annual rate) di bulan Desember 2019, atau tertinggi sejak Desember 2006. Kenaikan ini ditopang naiknya pembangunan rumah tapak sebesar 11,2% menjadi 1,06 juta unit, dan pembangunan rumah susun atau apartemen sebesar 29,8% menjadi 553 ribu unit. Sedangkan untuk izin mendirikan bangunan (building permits) di periode yang sama turun 3,9% mom menjadi 1,416 juta unit (SA annual rate).

Output industri AS turun 0,3% mom di bulan Desember 2019, menyusul pertumbuhan 0,8% mom di bulan sebelumnya. Perubahan cuaca membuat permintaan output utilitas menurun, sementara output sektor pertambangan dan manufaktur meningkat.

Download artikel selengkapnya(723.81 Kb)
Danareksa Debt Research Weekly Report, Minggu II Januari 2020
January 13, 2020 11:38 WIB

Publikasi terkini dan peristiwa ekonomi mewarnai pergerakan pasar regional dan domestik dalam satu minggu terakhir. DRI merangkum sejumlah poin utama yang dianggap memengaruhi kinerja pasar, sebagai berikut

Tensi geopolitik antara AS dan Iran memanas awal minggu lalu, dan berangsur mereda akhir pekan lalu. Aksi balasan Iran dengan menembakan rudal ke markas tentara AS di Irak, membuat kekhawatiran investor akan perang meningkat. Namun, respon AS yang lebih lunak, dengan memilih opsi negosiasi dengan Tehran dan tambahan sanksi ekonomi, berhasil meredakan ketegangan. Mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat di akhir pekan kemarin.

Dari domestik, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2019 mencapai USD 129,2 miliar, meningkat dibandingkan posisi November 2019 sebesar USD 126,6 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan penerimaan valas lainnya

Penjualan retail Indonesia bulan November 2019 tumbuh 0,4% mom, menyusul kenaikan 1,6% mom di bulan sebelumnya. Secara tahunan, penjualan retail tumbuh melambat dari 3,6% yoy menjadi 1,3% yoy, didorong belanja konsumen atas produk makanan dan minuman, serta perlengkapan rumah tangga. Penjualan produk BBM, barang budaya dan rekreasi, pakaian, perlengkapan informasi dan komunikasi mengalami penurunan.

Dari ekonomi Jepang, Indikator Jibun Bank Japan Services PMI turun ke level 49,4 di bulan Desember 2019, dari level 50,3 di bulan sebelumnya. Sinyal kontraksi sektor jasa Jepang terjadi menyusul turunnya order baru yang diterima, dan output produksi.

Indeks kepercayaan konsumen Jepang naik 0,4 poin ke level 39,1 di bulan Desember 2019, atau level tertinggi sejak Mei 2019 dan diatas ekspektasi pasar, level 38. Keyakinan konsumen Jepang atas rencana pembelian barang tahan lama, kondisi lingkungan, serta pertumbuhan pendapatan mencatat kenaikan.

Belanja masyarakat Jepang menurun 2,0% yoy di bulan Oktober, setelah di bulan sebelumnya juga turun 5,1% yoy. Rumah tangga mengurangi pengeluarannya seiring kenaikan pajak penjualan Oktober dan bencana topan.

Dari ekonomi Eropa, indikator sentimen investor-Sentix Investor Confidence naik ke level 7,6 pada bulan Januari 2020, dari level 0,7 di bulan sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan naiknya optimisme investor terhadap prospek ekonomi Eropa ke depan.

Dari ekonomi China, indikator Caixin China General Services PMI bulan Desember 2019, menurun ke level 52,5 dari level 53,5. Ekspansi sektor jasa China melambat seiring pertumbuhan order ekspor yang melambat dan serapan tenaga kerja yang menurun.

Harga barang dan jasa di tingkat konsumen China di bulan Desember cenderung stabil (-0,0% mom) dari bulan sebelumnya. Secara tahunan, laju inflasi China bertahan di level 4,5% yoy (vs +4,7% yoy ekspektasi). Kenaikan ini didorong meningkatnya harga bahan makanan, terutama menjelang Tahun Baru Imlek.

Dari sisi ekonomi AS, indikator IHS Markit US Services PMI naik ke level 52,8 pada Desember 2019, dari level November 51,6, yang mengindikasikan ekspansi sektor jasa AS. Akselerasi pertumbuhan sektor jasa didorong meningkatnya order baru dan serapan tenaga kerja industri.

Nilai ekspor AS naik ke level USD 208,6 miliar di bulan November 2019, dan impor menurun menjadi USD 251,7 miliar. Hal ini membawa defisit perdagangan AS di bulan November turun menjadi USD 43,1 miliar, dari USD 46,9 miliar di bulan sebelumnya. 

Selanjutnya, order baru yang diterima pabrikan AS (factory orders) turun 0,7% mom pada bulan November 2019, menyusul pertumbuhan 0,2% mom di periode sebelumnya. Kenaikan pesanan terjadi pada produk perlengkapan elektrik, furniture, komputer, dan alat elektronik.

Indikator ISM Non-Manufacturing PMI bulan Desember naik dari level 53,9 ke level 55. Akselerasi ekspansi non manufaktur AS ditopang meningkatnya produksi dan persediaan, sementara order baru, order ekspor dan serapan tenaga kerja melambat.

Di sektor ketenagakerjaan AS, ADP Employment Report menunjukkan tambahan serapan tenaga kerja swasta non pertanian di bulan Desember sebesar 202 ribu posisi (vs 124 ribu posisi di bulan November). Usaha kecil, menengah, dan besar AS masing-masing menambah tenaga kerja sebanyak 69 ribu, 88 ribu, dan 45 ribu posisi. Sektor industri menyerap tambahan tenaga kerja sebesar 29 ribu posisi, sedangkan sektor jasa menambah 173 ribu posisi. Di sektor manufaktur dan pertambangan, tenaga kerja berkurang sebesar masing-masing 7 ribu posisi, dan seribu posisi.

Data ketenagakerjaan terbitan pemerintah AS memperlihatkan serapan tenaga kerja non pertanian (nonfarm payrolls) bulan Desember 2019 meningkat 145 ribu posisi (vs 164 ribu ekspektasi), lebih rendah dari serapan bulan sebelumnya sebanyak 256 ribu posisi. Tambahan tenaga kerja terbanyak terjadi pada sektor perdagangan retail dan jasa kesehatan, sedangkan pada sektor tambang menurun. Rerata pendapatan perjam (average hourly earnings) yang diperoleh tenaga kerja tumbuh melambat dari 0,3% mom menjadi 0,1% mom (vs +0,3% ekspektasi). Rilis ketenagakerjaan AS juga menunjukkan tingkat pengangguran stabil pada level 3,5%.

Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 4 Januari 2020) turun sebanyak 9 ribu aplikasi menjadi 214 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya tercatat lebih rendah 9.500 aplikasi menjadi 224 ribu aplikasi, atau masih dibawah rerata periode 1967-2020 sebesar 350,8 ribu aplikasi. 

Download artikel selengkapnya(693.67 Kb)
Danareksa Debt Research Weekly Report, Minggu I Januari 2020
January 06, 2020 11:36 WIB

 Perkembangan damai dagang AS-China dan eskalasi geopolitik Timur Tengah membawa volatilitas pergerakan bursa keuangan meningkat. Seperti diketahui, AS dan China telah menyelesaikan kesepakatan dagang tahap pertama akhir tahun 2019, dan bersiap melakukan penandatanganan pada 15 Januari 2020 di Gedung Putih. AS akan tetap mengenakan tarif 25% untuk impor barang dari China senilai USD 250 miliar, sedangkan untuk impor sebesar USD 120 miliar lainnya diturunkan menjadi 7,5%. Untuk impor produk dari China (termasuk pakaian, mainan, dan elektronik) senilai USD 156 miliar yang direncanakan akan dikenakan tarif 15%, akhirnya dibatalkan. 

Sebagai imbal balik penghapusan tarif ini, China berkomitmen membeli barang-barang dari AS senilai USD 200 miliar dan produk pertanian AS sebesar USD 40 miliar selama 2 tahun ke depan. China mengumumkan akan menurunkan tarif impor untuk lebih dari 850 produk mulai Januari 2020. Sebagai contoh tarif impor daging babi beku turun dari 12% menjadi 8% untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat. Tarif impor alpukat beku turun dari 30% menjadi 7%, dan tarif impor ferroniobium dari 1% menjadi 0% untuk pengembangan teknologi tinggi.

Tensi geopolitik antara AS dan Iran meningkat, setelah serangan udara AS dilaporkan menewaskan petinggi militer Iran. Kekhawatiran pecahnya perang di kawasan Timur Tengah menekan pergerakan mayoritas bursa saham regional. Harga minyak global naik diatas USD 68 per barel dan komoditas emas menanjak diatas level USD 1.552 per ounce minggu lalu.

Dari domestik, laju inflasi Indonesia bulan Desember mencapai 0,34% mom atau tercatat 2,72% secara tahunan. Secara bulanan, tekanan harga meningkat pada komponen bahan makanan (+0.78% mom), makanan jadi (+0,29% mom) dan transportasi (+0,58% mom). Jelang hari Natal, Tahun Baru, dan libur sekolah mendorong permintaan barang dan ongkos transportasi meningkat. Tekanan inflasi bulanan Desember 2019 tercatat menjadi inflasi bulanan terendah sejak Desember 2009. Hal ini menggambarkan melemahnya daya beli masyarakat menjelang akhir tahun 2019.

Pada awal Januari 2020, Pertamina memangkas harga sejumlah BBM non subsidi dengan kisaran 6,6%-12,8%. Harga Pertamax turun dari IDR 9.850/ltr menjadi IDR 9.200/ltr, Pertamax Turbo turun dari IDR 11.200/ltr menjadi IDR 9.900/ltr, Pertamina Dex turun dari IDR 11.700/ltr menjadi IDR 10.200/ltr, Dexlite turun dari IDR 10.200/ltr menjadi IDR 9.500/ltr.

Dari ekonomi Jepang, indikator Jibun Bank Japan Manufacturing PMI bulan Desember 2019, turun ke level 48,4 dari level 48,9 di bulan sebelumnya. Kontraksi sektor manufaktur Jepang disebabkan menurunnya output produksi, order baru yang diterima pabrikan, dan ekspor yang lesu.

Dari ekonomi Eropa, indikator manufaktur IHS Markit PMI Uni Eropa bulan Desember turun ke level 46,3 dari 46,9 di bulan sebelumnya. Kontraksi sektor manufaktur Eropa didorong makin turunnya order baru yang diterima pabrikan dan output produksi.

Dari ekonomi China, indikator manufaktur resmi pemerintah China di bulan Desember 2019 stabil di level 50,2 seperti bulan sebelumnya. Ekspansi sektor manufaktur China ditopang meningkatnya pertumbuhan order baru, output produksi dan penjualan ekspor. Sedangkan indikator manufaktur Caixin PMI sedikit turun dari 51,8 menjadi 51,5 di bulan yang sama. Pertumbuhan order baru dan ekspor melambat, sementara output produksi tetap menanjak.

PBOC memangkas rasio cadangan minimum (RRR) sebesar 50 bps efektif 6 Januari 2020, untuk mendorong pertumbuhan kredit dan menekan biaya kredit. RRR untuk bank besar menjadi 12,5% dari 13,0%.

Dari sisi ekonomi AS, indikator manufaktur IHS Markit Manufacturing PMI sedikit menurun dari level 52,5 menjadi 52,4 di bulan Desember 2019. Output dan ekspansi bisnis tumbuh moderat, ditengah serapan tenaga kerja yang menguat. Berbeda dengan IHS Markit, indikator ISM Manufacturing PMI Desember turun ke level 47,2 dari level 48,1 di bulan November. Kontraksi sektor manufaktur AS masih terjadi seiring turunnya order baru, order ekspor, produksi dan serapan tenaga kerja. Indikator ISM PMI ini merupakan yang terendah sejak Juni 2009, yang tercatat pada level 46,3.

Kontrak penjualan stok rumah (pending homes sales) tumbuh 1,2% mom (+7,4% yoy) di bulan November 2019, setelah dibulan sebelumnya turun 1,3% mom (+4,9% yoy). Kontrak penjualan rumah ini mencatat kenaikan tahunan tertinggi sejak Jun 2015.

 Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 28 Desember 2019) turun 2 ribu aplikasi menjadi 222 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya tercatat naik 4.750 aplikasi menjadi 233.250 aplikasi dari minggu sebelumnya. Klaim manfaat pengangguran ini masih lebih rendah dari rerata sepanjang periode 1967-2019 sebesar 350.860 ribu aplikasi.


Minggu II Januari 2020 

 

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain 

 

                • USA: Neraca perdagangan, factory orders, ADP Employment Change, klaim tunjangan pengangguran mingguan, rerata pendapatan tenaga kerja perjam

                Jepang: Consumer confidence index, LEI, CEI 

                China: Laju inflasi, producer price index 

                • EU: Penjualan retail, laju inflasi, business climate indicator, consumer confidence index, producer price index

                • Indonesia: Cadangan devisa

Download artikel selengkapnya(623.65 Kb)
Weekly Report Oct 2017
Country's FCLT Rating
S & P BBB-
Moody's Baa3
Fitch BBB-

Key Market Editor
BI Rate 4.25%
JCI 5,915.00
IDR 13.52
Inflation Sep 2017(%YoY) 3.72%

Market Outstanding
Government Bond IDR 2,060.70 bn
Corporate Bond IDR 371.60 bn

Last Week Trading Volume
Government Bond IDR 73.32 bn
Corporate Bond IDR 4.85 bn

Government Bond Indices
Price Index 134.87
Yield Index 6.23%
Total Return 557.70

Benchmark Yield
FR0061 5 Year 6.19%
FR0059 10 Year 6.53%
FR0074 15 Year 7.13%
FR0072 20 Year 7.32%