Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Laporan Mingguan

Danareksa Weekly Report, 14 Feb 2017 : Better Outlook
February 16, 2017 12:01 WIB

Moody’s menaikkan outlook peringkat Indonesia menjadi positif
Moody’s Investor Service telah merevisi outlook peringkat Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi positif pada Rabu 8 Februari 2017. Moody’s juga menegaskan peringkat penerbit Indonesia Baa3, peringkat obligasi senior tanpa jaminan Baa3, dan peringkat program MTN tanpa jaminan (P)Baa3.Alasan utama perubahan outlook adalah karena pertanda adanya pengurangan pembatasan pada pemeringkatan Indonesia, termasuk level kerentanan eksternal dan kekuatan institusi. Kerentanan eksternal Indonesia mengalami penurunan karena adanya penyempitan defisit neraca berjalan, cadangan devisa yang mengalami peningkatan, dan kenaikan utang eksternal sektor swasta yang mengalami perlambatan. Selain itu, rekam jejak stabilitas makroekonomi Indonesia dan disiplin fiskal mengindikasikan adanya perbaikan efektivitas kebijakan.

Sebelumnya, Fitch Ratings telah mengubah outlook Indonesia menjadi positif
Sebelum Moody’s mengubah outlook peringkat Indonesia bulan ini, Fitch Ratings telah mengubah outlook peringkat Indonesia’s Long-Term Foreign- and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDRs) menjadi positif pada 21 Desember 2016 dengan kedua peringkat ditegaskan pada level “BBB-“. Revisi outlook ini berdasarkan pada asumsi anggaran belanja tahun 2017 yang lebih realistis dan kebijakan moneter dan nilai tukar Bank Indonesia (BI) yang telah efektif dalam menghadapi gejolak pasar. Selain itu, reformasi struktural yang kuat sejak September 2015 secara bertahap telah memperbaiki lingkungan bisnis yang sulit dan hal ini mendukung prospek pertumbuhan dalam jangka menengah.

Menyematkan harapan pada S&P Global Ratings
S&P Global Ratings diperkirakan akan memberikan peringkat Indonesia pada tahun ini. Dalam publikasi terakhirnya (1 Juni 2016), S&P Global Ratings menegaskan peringkat Indonesia berada di BB+ “long term”/B “short term” dan outlook yang tetap positif. Peringkat Indonesia dan outlook Indonesia tidak mengalami perubahan karena menurut S&P Global Ratings, kerangka fiskal Indonesia telah membaik yang dapat menyebabkan peningkatan kualitas belanja publik dan hasil fiskal yang dapat diprediksi. Namun demikian, dalam pandangan S&P Global Ratings, kinerja fiskal Indonesia belum membaik dengan alasan siklus dan struktural. Perusahaan permeringkat ini dapat menaikkan peringkat Indonesia apabila terdapat perubahan kerangka fiskal yang dapat memperbaiki kinerja fiskal seperti penurunan defisit dan pinjaman yang tetap rendah.

Download artikel selengkapnya(483.58 Kb)
Danareksa Weekly Report, 24 Jan 2017 : Waiting Game
January 25, 2017 06:48 WIB

Yield index bergerak cenderung sideways pada minggu lalu. Yield index, yang berada di posisi 7,63% pada 1/16, turun ke posisi 7,58% pada 1/18, namun meningkat kembali ke posisi 7,61% pada 1/20. Market masih cenderung wait-and-see terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika setelah pidato pelantikan Donald Trump, terimplikasi oleh naiknya harga US Treasury dan turunnya indeks saham pada hari Senin tanggal 23 Januari. Yield UST 10 tahun turun 7bps ke level 2,4% pada hari senin 1/23. Dow Jones Average Index juga mengalami penurunan sebesar 0,14% selama periode yang sama. Tentu ini dapat berdampak pada yield obligasi Pemerintah Indonesia, dimana diperkirakan demand akan melemah dan yield cenderung meningkat selama minggu ini.

Kepemilikan investor asing berada dalam tren meningkat selama 2 minggu terakhir. Berawal pada posisi Rp670,41 triliun pada 1/9, kepemilikan asing meningkat 2% hingga Rp683,1 triliun pada 1/23 atau 37,8% dari total outstanding, berdasarkan data Kementerian Keuangan. Investor asing dipekirakan akan tetap menjadi net buyer di beberapa hari kedepan.

Indeks USD turun sebesar 0,43% dari 101,18 pada 1/16 ke 100,74 pada 1/20. Angka tersebut terus mengalami penurunan setelah pidato pelantikan Donald Trump, di mana indeks kembali turun 0,58% ke posisi 100,16 pada 1/23. Sementara itu, nilai tukar Rupiah sempat menguat terhadap dolar AS ke level Rp13.333 pada 1/17 sebelum pada akhirnya menutup minggu di Rp13,410. Per hari Senin tanggal 23 Januari 2017, Rupiah kembali mengalami apresiasi sebesar 0,31% ke level Rp13,369 pada 1/23.

Download artikel selengkapnya(136.32 Kb)
Danareksa Weekly Report, 17 Jan 2017 : Seeking Safer Options
January 17, 2017 17:24 WIB

Permintaan investor asing yang moderat
Selama minggu lalu Danareksa Government Bonds Yield Index mengalami penurunan dari 7,74% menjadi 7,63%, atau turun tipis sebesar 11bps, sekaligus mencatatkan total return mingguan sebesar 0,77%. Penurunan yield tersebut diikuti dengan peningkatan kepemilikan asing. Porsi kepemilikan asing meningkat sebesar Rp4 triliun dari Rp668,6 triliun menjadi Rp672,6 triliun dalam kurun waktu seminggu. Pada minggu pertama tahun 2017, kepemilikan asing juga meningkat sebesar Rp2,8 triliun.

Minat yang lebih tinggi pada tenor pendek dan menengah
Total transaksi obligasi Pemerintah selama minggu lalu tercatat sebesar Rp57,1 triliun dengan rata-rata transaksi mencapai Rp19,2 miliar per transaksi. Selain itu, aktivitas pasar sekunder obligasi Pemerintah didominasi oleh obligasi tenor menengah dan tenor pendek dengan total proporsi mencapai 77,6%. Bahkan pada minggu sebelumnya, proporsi transaksi obligasi tenor panjang hanya mencapai 6% dari total transaksi. Hal ini mencerminkan minat investor yang masih kurang untuk tenor panjang dan para investor cenderung memperbanyak posisi di tenor pendek hingga menengah.

Di sisi lain, total transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar Rp3,15 triliun, turun Rp83 miliar dari total transaksi di minggu sebelumnya. Rating AAA menjadi obligasi yang paling banyak ditransaksikan selama minggu lalu dengan total transaksi mencapai Rp1,27 triliun, atau 40% dari total transaksi. Sementara berdasarkan sektor, sektor multifinance mendominasi transaksi obligasi korporasi dengan proporsi sebesar 45%.

Kemungkinan peningkatan yield
Dibandingkan dengan posisi yield curve, valuasi harga obligasi di awal minggu ini relatif mahal. Oleh karena itu yield obligasi berpotensi mengalami peningkatan. Selain itu, investor asing diprediksi masih akan mencatatkan net buy selama minggu ini. Berdasarkan data historis, kepemilikan asing cenderung mengalami peningkatan di awal tahun. Sebagai contoh, selama Januari 2015 dan Januari 2016, kepemilikan asing masing-masing meningkat sebesar Rp19,8 triliun dan Rp39,5 triliun.


Download artikel selengkapnya(170.85 Kb)
Weekly Report Aug 2016
Country's FCLT Rating
S & P BB+
Moody's Baa3
Fitch BBB-

Key Market Editor
BI Rate 6.50%
JCI 5,421.00
IDR 13.01
Inflation Oct 16(%YoY) 3.07%

Market Outstanding
Government Bond IDR 1.74 bn
Corporate Bond IDR 295.90 bn

Last Week Trading Volume
Government Bond IDR 40.72 bn
Corporate Bond IDR 2.35 bn

Government Bond Indices
Price Index 132.20
Yield Index 7.13%
Total Return 507.70

Benchmark Yield
FR0053 5 Year 6.82%
FR0056 10 Year 7.01%
FR0073 15 Year 7.38%
FR0072 20 Year 7.57%