Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Laporan Mingguan

Danareksa Monthly Report - Waiting for Rates to Change
March 15, 2017 09:41 WIB

Perubahan arah yield
Pergerakan yield obligasi global terutama obligasi safe haven menunjukkan kecenderungan bergerak berada pada level yang sama selama bulan Februari. Yield 10-tahun US Treasury turun 9bps dari 2,45% menjadi 2,36%, sedangkan yield 2-tahun US Treasury bergerak tipis dari 1,19% menjadi 1,22%. Pada tanggal 14-15 Maret 2017 akan diselenggarakan rapat the Fed dimana suku bunga the Fed kemungkinan besar akan dinaikkan. Sebelumnya, suku bunga acuan the Fed naik sebesar 25bps pada bulan Desember 2016. Menjelang kenaikan the Fed di bulan Desember 2016, US Treasury meningkat sebesar 40 bps selama bulan November 2016.

Danareksa Government Bonds Yield Index (DGBI) menyentuh angka 7,65% di akhir bulan Februari 2017, cenderung sideways jika dibandingkan dengan DGBI akhir bulan Januari 2017 yang berada pada level 7,70%. Sejak awal tahun, yield index mengalami penurunan yaitu sebesar 23bps dari 7,87% di akhir tahun 2016. Selama periode tersebut, kepemilikan asing meningkat menjadi sebesar Rp691,89 triliun per tanggal 28 Februari atau sebesar 37,47% dari total outstanding obligasi Pemerintah. Selain investor asing, bank domestik juga meningkatkan kepemilikannya menjadi Rp398,36 triliun (tidak termasuk reverse repo) sedangkan Bank Indonesia sebesar Rp168,42 triliun (termasuk reverse repo).

Penerbitan obligasi korporasi lebih bervariasi
Sementara itu, outstanding obligasi korporasi terus meningkat seiring dengan penurunan yield obligasi. Penerbitan obligasi korporasi sejak awal tahun hingga akhir Februari 2017 mencapai Rp10,34 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor Banking sebesar Rp6,63 triliun. Kontribusi kedua terbesar berasal dari sektor Property & Construction sebesar Rp1,66 triliun, disusul oleh Financial Company sebesar Rp1,55 triliun dan Consumer Goods sebesar Rp500 miliar . Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016, penerbitan obligasi di tahun 2017 lebih bervariasi. Penerbitan pada Januari-Februari 2016 mencapai Rp10,5 triliun dan hanya berasal dari 2 sektor yaitu Banking dan Financial Company dengan proporsi masing-masing sebesar 91% dan 9%.

Download artikel selengkapnya(362.27 Kb)
Danareksa Weekly Report , 07 March 2017 : Light Breeze
March 07, 2017 18:56 WIB

Pergerakan sideways pasar obligasi
Pasar obligasi cenderung bergerak sideways selama minggu lalu. Danareksa Government Bonds Yield Index mencatatkan penurunan sebesar 3bps menjadi 7,53% pada 3 Maret 2017. Jika dibandingkan dengan akhir tahun 2016, yield index telah mengalami penurunan sebesar 40bps, lebih rendah dari penurunan selama periode yang sama di tahun 2016 yang mencapai 72bps. Selain itu, pasar sekunder obligasi Pemerintah didominasi oleh tenor pendek (di bawah 6 tahun) dengan total transaksi mencapai Rp24 triliun (44,5% dari total transaksi). Sedangkan total transaksi untuk tenor menengah (6 – 15 tahun) dan tenor panjang (di atas 15 tahun) masing-masing sebesar Rp21,6 triliun dan Rp8,4 triliun.

Tren sideways yang terjadi mengindikasikan view investor terhadap pasar obligasi Pemerintah. Investor memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke pasar. Hal itu tergambar juga dari tingkat volatilitas yang menurun signifikan selama tahun 2017. Standar deviasi - yang dapat digunakan untuk mengukur volatiltias – dari FR0059 (Exhibit 1) memperlihatkan adanya penurunan tajam sejak November 2016. Potensi upgrade rating Indonesia dari lembaga pemeringkat S&P merupakan salah satu potensi yang dapat memicu capital inflow ke pasar obligasi.

Hasil lelang obligasi Pemerintah
Selama bulan Februari 2017, jumlah penawaran yang masuk pada lelang obligasi Pemerintah mencapai Rp84,1 triliun, turun Rp71 triliun dari penawaran di bulan Januari 2017. Meski demikian, proporsi untuk seri SPN dan SPNS mengalami penurunan dari 61% menjadi 39,9%. Hal ini menggambarkan adanya optimisme investor untuk berinvestasi di tenor yang lebih panjang. Di sisi lain, proporsi penawaran untuk seri SPN/SPNS selama 2M16 kurang dari 20%. Per 3 Maret 2017, total penerbitan obligasi Pemerintah telah mencapai Rp165,8 triliun, atau 24,2% dari target kebutuhan penerbitan tahun 2017 sebesar Rp684.8 triliun.

Download artikel selengkapnya(180.64 Kb)
Danareksa Weekly Report, 14 Feb 2017 : Better Outlook
February 16, 2017 12:01 WIB

Moody’s menaikkan outlook peringkat Indonesia menjadi positif
Moody’s Investor Service telah merevisi outlook peringkat Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi positif pada Rabu 8 Februari 2017. Moody’s juga menegaskan peringkat penerbit Indonesia Baa3, peringkat obligasi senior tanpa jaminan Baa3, dan peringkat program MTN tanpa jaminan (P)Baa3.Alasan utama perubahan outlook adalah karena pertanda adanya pengurangan pembatasan pada pemeringkatan Indonesia, termasuk level kerentanan eksternal dan kekuatan institusi. Kerentanan eksternal Indonesia mengalami penurunan karena adanya penyempitan defisit neraca berjalan, cadangan devisa yang mengalami peningkatan, dan kenaikan utang eksternal sektor swasta yang mengalami perlambatan. Selain itu, rekam jejak stabilitas makroekonomi Indonesia dan disiplin fiskal mengindikasikan adanya perbaikan efektivitas kebijakan.

Sebelumnya, Fitch Ratings telah mengubah outlook Indonesia menjadi positif
Sebelum Moody’s mengubah outlook peringkat Indonesia bulan ini, Fitch Ratings telah mengubah outlook peringkat Indonesia’s Long-Term Foreign- and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDRs) menjadi positif pada 21 Desember 2016 dengan kedua peringkat ditegaskan pada level “BBB-“. Revisi outlook ini berdasarkan pada asumsi anggaran belanja tahun 2017 yang lebih realistis dan kebijakan moneter dan nilai tukar Bank Indonesia (BI) yang telah efektif dalam menghadapi gejolak pasar. Selain itu, reformasi struktural yang kuat sejak September 2015 secara bertahap telah memperbaiki lingkungan bisnis yang sulit dan hal ini mendukung prospek pertumbuhan dalam jangka menengah.

Menyematkan harapan pada S&P Global Ratings
S&P Global Ratings diperkirakan akan memberikan peringkat Indonesia pada tahun ini. Dalam publikasi terakhirnya (1 Juni 2016), S&P Global Ratings menegaskan peringkat Indonesia berada di BB+ “long term”/B “short term” dan outlook yang tetap positif. Peringkat Indonesia dan outlook Indonesia tidak mengalami perubahan karena menurut S&P Global Ratings, kerangka fiskal Indonesia telah membaik yang dapat menyebabkan peningkatan kualitas belanja publik dan hasil fiskal yang dapat diprediksi. Namun demikian, dalam pandangan S&P Global Ratings, kinerja fiskal Indonesia belum membaik dengan alasan siklus dan struktural. Perusahaan permeringkat ini dapat menaikkan peringkat Indonesia apabila terdapat perubahan kerangka fiskal yang dapat memperbaiki kinerja fiskal seperti penurunan defisit dan pinjaman yang tetap rendah.

Download artikel selengkapnya(483.58 Kb)
Weekly Report Aug 2016
Country's FCLT Rating
S & P BB+
Moody's Baa3
Fitch BBB-

Key Market Editor
BI Rate 6.50%
JCI 5,421.00
IDR 13.01
Inflation Oct 16(%YoY) 3.07%

Market Outstanding
Government Bond IDR 1.74 bn
Corporate Bond IDR 295.90 bn

Last Week Trading Volume
Government Bond IDR 40.72 bn
Corporate Bond IDR 2.35 bn

Government Bond Indices
Price Index 132.20
Yield Index 7.13%
Total Return 507.70

Benchmark Yield
FR0053 5 Year 6.82%
FR0056 10 Year 7.01%
FR0073 15 Year 7.38%
FR0072 20 Year 7.57%