Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Laporan Mingguan

Danareksa Weekly Report, 22 May 2017 : Congratulation, Indonesia!
May 22, 2017 10:50 WIB

Setelah bertahun-tahun menunggu, S&P akhirnya memberi Indonesia peringkat investment grade yang telah lama ditunggu. Lembaga pemeringkat tersebeut meningkatkan peringkat Indonesia pada tanggal 19 Mei 2017 dari BB + (pos) menjadi BBB- (stable), menyamai peringkat yang telah diberikan oleh Moody’s (Baa3) dan Fitch (BBB-). Pada bulan Desember 2016, Fitch meningkatkan outlook Indonesia menjadi positif, diikuti oleh Moody’s yang meningkatkan outlook pada bulan Februari 2017. Peningkatan ini berkontribusi terhadap penurunan yield instrumen Obligasi Pemerintah 10-thn (SUN 10 tahun) di 4M17. Pada hari terjadinya rating upgrade minggu lalu, yield turun secara signifikan pada beberapa jam perdagangan terakhir.

Bid yield untuk FR0059 di akhir pekan lalu di 7,01%, mencatat penurunan 73bps dari levelnya di akhir 2016, menurut data Bloomberg. Dibandingkan minggu sebelumnya, yield 8bps lebih rendah. Penurunan yield juga dapat diamati dari instrumen USD di Indonesia seperti Indon Series dan obligasi beberapa BUMN, yang mencatatkan rata-rata penurunan yield sebesar masing-masing 5bps dan 3bps dari minggu sebelumnya.

Tren penurunan yield obligasi menunjukkan peningkatan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini semakin tersirat oleh menyusutnya spread antara yield USD 10 thn Indon atas US Treasury Notes dengan jangka waktu yang sama. Dibandingkan dengan akhir tahun 2016, spread telah mencatatkan penurunan lebih dari 30bps. Selain yield yang lebih rendah, kami berharap dapat melihat peningkatan signifikan dalam partisipasi investor asing di pasar obligasi korporasi Indonesia dalam jangka panjang, terutama obligasi Rupiah. Berdasarkan data KSEI, kepemilikan asing di obligasi korporasi hanya mencapai 6,5% pada April 2017, jauh lebih rendah dibandingkan kepemilikannya pada IDR Tradable SBN yang telah melampaui 38% dari jumlah outstanding. Dengan nilai investment grade yang baru dicapai, kami memperkirakan investor asing akan lebih aktif dalam pasar obligasi korporasi domestik di Indonesia.

Download artikel selengkapnya(200.23 Kb)
Danareksa Weekly Report, 04 Apr 2017 : Essential Factors to be Noted
April 05, 2017 14:44 WIB

Penurunan lebih lambat pada yields obligasi
Selama minggu lalu, pergerakan yield obligasi Pemerintah masih didominasi trend bullish meski sedikit lambat dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya. Danareksa Government Bonds Yield Index mengalami penurunan sebesar 8bps dari 7,16% menjadi 7,08%, sekaligus mencatatkan total return sebesar 0,74%. Penurunan yield selama tahun ini diikuti juga oleh membaiknya risiko yang tergambar dari CDS Indonesia. Per 31 Maret 2017, CDS 5-tahun Indonesia berada di level 128bps, atau turun 30bps dibandingkan dengan angka di akhir tahun 2016.

Korelasi kuat antara perubahan yield dan permintaan pada obligasi oleh investor asing
Pertumbuhan kepemilikan investor asing yang signifikan tahun ini menjadi salah satu katalisator trend bullish yang terjadi di pasar obligasi Pemerintah. Pada Exhibit 2, terlihat bahwa korelasi antara pergerakan yield dan demand dari investor asing selama 1Q17 cukup tinggi. Selama kuartal I tahun 2017, kepemilikan asing meningkat dari Rp665,8 triliun menjadi Rp723,2 triliun, atau meningkat sebesar Rp57,4 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan net buy investor asing selama periode yang sama di tahun 2016 sebesar Rp47,6 triliun. Meski demikian, penurunan yield selama 1Q16 lebih tinggi yaitu mencapai 109bps, sedangkan penurunan yield selama tahun 2017 hanya sebesar 72bps.

Sektor keuangan merupakan sektor yang paling populer
Aktivitas pasar sekunder obligasi korporasi selama kuartal pertama tahun ini didominasi oleh sektor Financial company dengan total volume transaksi mencapai Rp18,6 triliun yang berasal dari 1.342 transaksi, atau rata-rata Rp13,9 miliar per transaksi. Di posisi kedua ada sektor Banking dengan total volume sebesar Rp13 triliun dan frekuensi transaksi sebesar 1.675 kali. Sementara dari sisi tenor, obligasi dengan tenor 1 hingga 3 tahun masih menjadi kelas tenor yang paling populer selama 3 bulan terakhir.
Download artikel selengkapnya(174.37 Kb)
Danareksa Monthly Report - Waiting for Rates to Change
March 15, 2017 09:41 WIB

Perubahan arah yield
Pergerakan yield obligasi global terutama obligasi safe haven menunjukkan kecenderungan bergerak berada pada level yang sama selama bulan Februari. Yield 10-tahun US Treasury turun 9bps dari 2,45% menjadi 2,36%, sedangkan yield 2-tahun US Treasury bergerak tipis dari 1,19% menjadi 1,22%. Pada tanggal 14-15 Maret 2017 akan diselenggarakan rapat the Fed dimana suku bunga the Fed kemungkinan besar akan dinaikkan. Sebelumnya, suku bunga acuan the Fed naik sebesar 25bps pada bulan Desember 2016. Menjelang kenaikan the Fed di bulan Desember 2016, US Treasury meningkat sebesar 40 bps selama bulan November 2016.

Danareksa Government Bonds Yield Index (DGBI) menyentuh angka 7,65% di akhir bulan Februari 2017, cenderung sideways jika dibandingkan dengan DGBI akhir bulan Januari 2017 yang berada pada level 7,70%. Sejak awal tahun, yield index mengalami penurunan yaitu sebesar 23bps dari 7,87% di akhir tahun 2016. Selama periode tersebut, kepemilikan asing meningkat menjadi sebesar Rp691,89 triliun per tanggal 28 Februari atau sebesar 37,47% dari total outstanding obligasi Pemerintah. Selain investor asing, bank domestik juga meningkatkan kepemilikannya menjadi Rp398,36 triliun (tidak termasuk reverse repo) sedangkan Bank Indonesia sebesar Rp168,42 triliun (termasuk reverse repo).

Penerbitan obligasi korporasi lebih bervariasi
Sementara itu, outstanding obligasi korporasi terus meningkat seiring dengan penurunan yield obligasi. Penerbitan obligasi korporasi sejak awal tahun hingga akhir Februari 2017 mencapai Rp10,34 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor Banking sebesar Rp6,63 triliun. Kontribusi kedua terbesar berasal dari sektor Property & Construction sebesar Rp1,66 triliun, disusul oleh Financial Company sebesar Rp1,55 triliun dan Consumer Goods sebesar Rp500 miliar . Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016, penerbitan obligasi di tahun 2017 lebih bervariasi. Penerbitan pada Januari-Februari 2016 mencapai Rp10,5 triliun dan hanya berasal dari 2 sektor yaitu Banking dan Financial Company dengan proporsi masing-masing sebesar 91% dan 9%.

Download artikel selengkapnya(362.27 Kb)
Weekly Report Aug 2016
Country's FCLT Rating
S & P BB+
Moody's Baa3
Fitch BBB-

Key Market Editor
BI Rate 6.50%
JCI 5,421.00
IDR 13.01
Inflation Oct 16(%YoY) 3.07%

Market Outstanding
Government Bond IDR 1.74 bn
Corporate Bond IDR 295.90 bn

Last Week Trading Volume
Government Bond IDR 40.72 bn
Corporate Bond IDR 2.35 bn

Government Bond Indices
Price Index 132.20
Yield Index 7.13%
Total Return 507.70

Benchmark Yield
FR0053 5 Year 6.82%
FR0056 10 Year 7.01%
FR0073 15 Year 7.38%
FR0072 20 Year 7.57%