Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Laporan Mingguan

Danareksa Weekly Report, 17 Jan 2017 : Seeking Safer Options
January 17, 2017 17:24 WIB

Permintaan investor asing yang moderat
Selama minggu lalu Danareksa Government Bonds Yield Index mengalami penurunan dari 7,74% menjadi 7,63%, atau turun tipis sebesar 11bps, sekaligus mencatatkan total return mingguan sebesar 0,77%. Penurunan yield tersebut diikuti dengan peningkatan kepemilikan asing. Porsi kepemilikan asing meningkat sebesar Rp4 triliun dari Rp668,6 triliun menjadi Rp672,6 triliun dalam kurun waktu seminggu. Pada minggu pertama tahun 2017, kepemilikan asing juga meningkat sebesar Rp2,8 triliun.

Minat yang lebih tinggi pada tenor pendek dan menengah
Total transaksi obligasi Pemerintah selama minggu lalu tercatat sebesar Rp57,1 triliun dengan rata-rata transaksi mencapai Rp19,2 miliar per transaksi. Selain itu, aktivitas pasar sekunder obligasi Pemerintah didominasi oleh obligasi tenor menengah dan tenor pendek dengan total proporsi mencapai 77,6%. Bahkan pada minggu sebelumnya, proporsi transaksi obligasi tenor panjang hanya mencapai 6% dari total transaksi. Hal ini mencerminkan minat investor yang masih kurang untuk tenor panjang dan para investor cenderung memperbanyak posisi di tenor pendek hingga menengah.

Di sisi lain, total transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar Rp3,15 triliun, turun Rp83 miliar dari total transaksi di minggu sebelumnya. Rating AAA menjadi obligasi yang paling banyak ditransaksikan selama minggu lalu dengan total transaksi mencapai Rp1,27 triliun, atau 40% dari total transaksi. Sementara berdasarkan sektor, sektor multifinance mendominasi transaksi obligasi korporasi dengan proporsi sebesar 45%.

Kemungkinan peningkatan yield
Dibandingkan dengan posisi yield curve, valuasi harga obligasi di awal minggu ini relatif mahal. Oleh karena itu yield obligasi berpotensi mengalami peningkatan. Selain itu, investor asing diprediksi masih akan mencatatkan net buy selama minggu ini. Berdasarkan data historis, kepemilikan asing cenderung mengalami peningkatan di awal tahun. Sebagai contoh, selama Januari 2015 dan Januari 2016, kepemilikan asing masing-masing meningkat sebesar Rp19,8 triliun dan Rp39,5 triliun.


Download artikel selengkapnya(170.85 Kb)
Danareksa Weekly Report, 10 Jan 2017 : Entering a New
January 11, 2017 09:12 WIB

Total obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah di tahun 2016 sebesar Rp651,85 triliun dan angka tersebut sesuai dengan kebutuhan yang tercatat di RAPBN 2016. Per 30 Desember 2016, total outstanding obligasi Pemerintah sebesar Rp1.773,28 triliun. Dari total outstanding obligasi tersebut, obligasi Pemerintah yang berada di bank domestik (tidak termasuk reverse repo) adalah sebesar Rp375,83 triliun, sedangkan yang berada di Bank Indonesia (termasuk reverse repo) berjumlah Rp157,88 triliun. Di samping itu, investor asing memiliki obligasi Pemerintah tercatat sebesar Rp665,81 triliun. Di tahun 2017, target penerbitan obligasi Pemerintah sebesar Rp684,83 triliun dan target 1Q17 adalah sebesar Rp155 triliun. Per 9 Januari 2017, Pemerintah telah menerbitkan obligasi sebesar Rp15 triliun.

Selain target penerbitan obligasi Pemerintah yang mengalami perbaharuan, benchmark obligasi Pemerintah juga mengalami perubahan di tahun 2017. Seri benchmark 5-tahun yang sebelumnya FR0053, saat ini menjadi FR0061 dengan kupon sebesar 7,00% dan jatuh tempo pada Mei 2022. Selain itu, seri benchmark obligasi Pemerintah 10-tahun di tahun 2017 menjadi FR0059 dengan jatuh tempo pada Mei 2027 dengan tingkat imbal hasil sebesar 7,00%. Sedangkan benchmark 15-tahun yang di tahun 2016 adalah FR0073, di tahun 2017 menjadi FR0074 dengan kupon sebesar 7,50% dan jatuh tempo pada Agustus 2032. Namun di tahun 2017 untuk benchmark obligasi Pemerintah 20-tahun tetap sama yakni FR0072 dengan tingkat imbal hasil sebesar 8,25% dan jatuh tempo pada Mei 2036.

Berdasarkan POJK No. 1/POJK.05/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara (SBN) bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank, lembaga jasa keuangan non-bank wajib menempatkan investasi pada SBN. Bagi perusahaan asuransi jiwa minimal memiliki SBN sebesar 30% dari seluruh jumlah investasi perusahaan paling lambat 31 Desember 2017. Bagi perusahaan asuransi umum, perusahaan reasuransi, dan lembaga penjaminan wajib menempatkan investasi pada SBN paling sedikit sebesar 20% dari seluruh jumlah investasi paling lambat 31 Desember 2017. Sedangkan bagi dana pensiun pemberi kerja paling rendah sebesar 30% dari jumlah investasi dana pensiun pemberi kerja paling lambat 31 Desember 2017. BPJS Ketenagakerjaan wajib memiliki SBN minimal sebesar 50% dari seluruh investasi Dana Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, dan paling rendah sebesar 30% dari jumlah investasi BPJS Ketenagakerjaan pada Desember 2016. Untuk BPJS Kesehatan, paling sedikit memiliki 30% dari jumlah investasi BPJS Kesehatan pada Desember 2016.

POJK No. 1/POJK.05/2016 direvisi pada bulan November 2016 dengan menerbitkan POJK No. 36/POJK.05/2016 yang menyatakan bahwa lembaga jasa keuangan non-bank dapat memenuhi POJK No. 1/POJK.05/2016 dengan melakukan penempatan investasi pada obligasi dan atau sukuk yang diterbitkan oleh BUMN, BUMD dan atau anak perusahaan BUMN yang penggunaannya untuk pembiayaan infrastruktur. Namun penempatan untuk pembiayaan infrastruktur tersebut memiliki proporsi paling tinggi sebesar 50% setelah tanggal 31 Desember 2016 dari batas minimum pada POJK No. 1/POJK.05/2016. Dengan adanya peraturan ini, maka diperkirakan permintaan terhadap obligasi yang dimaksud dalam POJK No. 36/POJK.05/2016 akan meningkat di tahun 2017 ini.

Download artikel selengkapnya(152.75 Kb)
Danareksa Weekly Report, 23 Aug 2016 : Welcoming The New Reference Rate
August 23, 2016 17:57 WIB

Pergantian suku bunga acuan
Pergerakan pasar obligasi Pemerintah cenderung bergerak mendatar selama minggu lalu. Danareksa Government Bonds Yield Index mencatatkan penurunan sebesar 3bps dari 6,92% menjadi 6,89%, sekaligus mencatatkan week-on-week return sebesar 0,14%. Hal tersebut diperkirakan merupakan antisipasi pasar atas perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui, BI telah merencanakan pergantian suku bunga acuan BI Rate menjadi BI 7-Days Repo Rate ini telah direncanakan pada awal tahun dan akan diresmikan pada 19 Agustus 2016.

Perbandingan turnover berdasarkan rating
Per akhir Juli 2016, YTD total transaksi obligasi korporasi mencapai Rp100 triliun, atau meningkat Rp11,6 triliun jika dibandingkan dengan total transaksi selama periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp88,4 triliun. Selama 7M16 transaksi obligasi korporasi didominasi oleh obligasi dengan rating AAA dengan proporsi mencapai 37,44%, diikuti oleh obligasi dengan rating AA+ dan AA- di posisi 2 dan 3 dengan porporsi masing-masing mencapai 16,93% dan 12,6%. Hal ini tidak jauh berbeda dengan transaksi obligasi korporasi selama tahun 2015, dimana obligasi AAA memiliki kontribusi terbesar, mencapai 33,63%.

Meskipun obligasi dengan rating AAA memiliki volume transaksi yang tertinggi di tahun ini, bukan berarti obligasi tersebut lebih likuid dibanding dengan yang lain. Per Juli 2016, turnover 3 bulan – indikator yang digunakan untuk mengukur likuiditas obligasi - untuk obligasi AAA mencapai 0,18, artinya hanya 18% dari total outstanding obligasi AAA yang diperadagangkan selama 3 bulan terakhir. Sedangkan, turnover untuk rating AA- tercatat sebesar 0,2, begitu juga obligasi dengan rating A+.

Download artikel selengkapnya(164.54 Kb)
Weekly Report Aug 2016
Country's FCLT Rating
S & P BB+
Moody's Baa3
Fitch BBB-

Key Market Editor
BI Rate 6.50%
JCI 5,421.00
IDR 13.01
Inflation Oct 16(%YoY) 3.07%

Market Outstanding
Government Bond IDR 1.74 bn
Corporate Bond IDR 295.90 bn

Last Week Trading Volume
Government Bond IDR 40.72 bn
Corporate Bond IDR 2.35 bn

Government Bond Indices
Price Index 132.20
Yield Index 7.13%
Total Return 507.70

Benchmark Yield
FR0053 5 Year 6.82%
FR0056 10 Year 7.01%
FR0073 15 Year 7.38%
FR0072 20 Year 7.57%