Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Weekly Update
Danareksa Debt Research Weekly Report, Minggu II Mei 2020
May 20, 2020 09:37

Dari domestik, defisit perdagangan Indonesia turun menjadi USD 0,35 miliar pada April 2020 dari bulan sebelumnya yang mengalami surplus sebesar USD 0,75 miliar. Defisit Neraca perdagangan bulan April disebabkan oleh penurunan pada kinerja ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan pada kinerja impor. Ekspor turun 7.02% yoy menjadi USD 12,19 miliar terutama disebabkan oleh penurunan pada ekspor migas (-17,70% yoy) dan non-migas (-6,38% yoy). Sementara itu, impor turun 18.58% yoy menjadi USD 12,54 miliar karena penurunan impor migas (-61.78% yoy) dan impor non-migas (-11.24% yoy). Namun dari bulan Januari – April 2020 neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD 2,25 miliar.

Posisi hutang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan I 2020 melambat 0.5% yoy menjadi USD 389,3 miliar jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7.8% yoy. Hal ini disebabkan oleh penurunan ULN publik dan perlambatan pertumbuhan ULN swasta.

Penjualan ritel di Indonesia turun 4.5% yoy pada bulan Maret 2020, setelah pada bulan sebelumnya turun sebesar 0.8% yoy. Ini merupakan penurunan keempat secara berturut – turut dalam perdagangan ritel Indonesia dan merupakan yang terdalam sejak bulan September 2011. Hal ini terjadi karena adanya kebijakan work from home dan pembatasan skala besar yang dilakukan pemerintah sehingga konsumen tetap tinggal di rumah. Penurunan penjualan paling tajam ada pada komponen pakaian (-60.5% yoy dari - 40.4% yoy).

Dari harga komoditas, harga minyak mentah AS (WTI) naik 6.8% menjadi USD 29,43/barel pada akhir perdagangan hari Jumat tanggal 15 Mei 2020 di tengah kenaikan permintaan dari China. Pada minggu ini harga minyak mentah WTI naik 19% setelah Arab Saudi memutuskan untuk memangkas produksinya sebesar 1 juta barel/ hari mulai bulan Juni. Sementara itu, harga Brent ditutup pada level USD 32,50/barel setelah menyentuh level tertingginya pada 13 April 2020 sebesar USD 32,89/barel, dalam minggu ini harga Brent naik 4.9%. Di sisi lain, harga emas tetap berada di level USD 1,741.65/ ons pada penutupan perdagangan hari Jumat tanggl 15 Mei 2020 setelah sempat menyentuh level tertingginya sejak bulan November 2012 sebesar USD 1,751.25/ ons.

Dari ekonomi Jepang, cadangan devisa Jepang meningkat menjadi USD 1,368,600 juta pada bulan April 2020 dari USD 1,366,200 juta di bulan sebelumnya. Sementara itu, neraca berjalan Jepang menyempit menjadi JPY 1,97 triliun pada bulan Maret 2020 dari JPY2,90 triliun pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Indeks untuk indikator ekonomi (leading economics indicator) Jepang turun menjadi 83.8 pada bulan Maret 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 91.9. Catatan menunjukkan bahwa ini merupakan level terendah sejak bulan Juni 2009 yang menunjukkan bahwa perekonomian Jepang memburuk akibat penyebaran Covid-19.

Producer Price Index (PPI) Jepang pada bulan April 2020 turun 2.1% yoy menyusul penurunan sebesar 0.4% yoy di bulan Maret 2020, ini merupakan penurunan tertajam sejak November 2016 terutama disebabkan oleh turunnya harga minyak dunia dan batu bara. DRIM DRI Ringkasan Mingguan M2-Mei 2020 DRIM

Dari ekonomi Eropa, pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa kuartal I tahun 2020 terkontraksi sebesar 3.8% paling tajam sejak 1995. Perekonomian Jerman, Prancis, Spanyol dan Italia melambat dimana Jerman dan Prancis terancam mengalami resesi ekonomi sebagai dampak penyebaran Covid-19. Di sisi lain kawasan Eropa mencatatkan surplus neraca perdagangannya sebesar EUR 28,207.30 juta pada bulan Maret 2002.

Produksi industri kawasan Eropa turun 12.9% yoy pada bulan Maret 2020, ini merupakan penurunan paling tajam sejak Agustus 2009 akibat dari pandemi Covid-19 yang menghentikan kegiatan bisnis dan perekonomian di kawasan Eropa.

Dari ekonomi China, Inflasi China turun menjadi 3.3% yoy pada bulan April 2020 setelah pada bulan sebelumnya berada pada level 4.3% yoy. Ini merupakan level inflasi yang terendah sejak September 2019 di tengah penyebaran Covid-19 yang semakin dalam. Perlambatan inflasi datang dari komponen makanan (14.8% yoy dari 18.3% yoy) dan komponen non-makanan (04% yoy dari 0.7% yoy). Di sisi lain, FDI China pada bulan Januari – April 2020 turun 6.1% ytd menjadi CNY 286,55 miliar sebagai dampak penyebaran Covid-19 di negara tersebut.

Producer Price Index (PPI) pada bulan April 2020 turun 3.1% yoy menyusul penurunan sebesar 1.5% yoy di bulan Maret 2020, ini merupakan penurunan paling tajam sejak April 2016. Sementara itu, produksi industri China naik 3.9% yoy pada bulan April 2020 berbanding terbalik dengan penurunan 1.1% yoy pada bulan sebelumnya. Ini merupakan pertumbuhan pertama kali pada output industri China sejak Desember 2019.

Retail sales China turun 7.5% yoy pada bulan April 2020 mengikuti penurunan pada bulan sebelumnya sebesar 15.9% yoy, ini merupakan penurunan terlemah dalam perdagangan ritel sejak Desember 2019.

Dari ekonomi AS, défisit anggaran AS pada bulan April 2020 sebesar USD 738 miliar berbanding terbalik dengan bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus USD 160 miliar. Ini merupakan efek peningkatan pengeluaran pemerintah sebesar 161% yoy menjadi USD 980 miliar dan penurunan pada pendapatan negara -55% yoy menjadi USD 242 miliar di tengah penyebaran Covid-19 di AS.

Inflasi AS bulan April turun menjadi 0.3% yoy dari sebelumnya berada pada level 1.5% yoy di bulan Maret 2020. Ini merupakan tingkat inflasi terendah sejak bulan Oktober 2015, terutama disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar sebesar 32%.

Producer Price index (PPI) AS turun 1.2-% yoy pada bulan April 2020, ini merupakan yang terendah sejak November 2015 akibat harga minyak yang berubah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah pada bulan April 2020. Produksi induatri AS turun 15% yoy pada bulan April 2020 dan merupakan penurunan terbesar sejak bulan Juni 2009. Sementara itu, penjualan ritel di AS turun 16.4% yoy pada bulan April 2020. Ini merupakan penurunan penjualan paling tajam yang pernah terjadi akibat penyebaran Covid-19 yang membuat masyarakat AS tetap di rumah dan banyaknya bisnis yang tutup.

Dari sektor tenaga kerja, jumlah warga AS yang mengisi tunjangan pengangguran mencapai 2,981 juta pada akhir minggu tanggal 9 mei 2020, ini merupakan level terendah sejak krisis Covid-19 dimulai sejak dua bulan yang lalu. Di sisi lain, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 813 ribu menjadi 6,91 juta pada bulan Maret 2020 dan merupakan level terendah sejak bulan Mei 2017 di tengah krisis Covid-19.