Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Weekly Update
Danareksa Debt Research Weekly Report, Minggu I Januari 2020
January 06, 2020 11:36

 Perkembangan damai dagang AS-China dan eskalasi geopolitik Timur Tengah membawa volatilitas pergerakan bursa keuangan meningkat. Seperti diketahui, AS dan China telah menyelesaikan kesepakatan dagang tahap pertama akhir tahun 2019, dan bersiap melakukan penandatanganan pada 15 Januari 2020 di Gedung Putih. AS akan tetap mengenakan tarif 25% untuk impor barang dari China senilai USD 250 miliar, sedangkan untuk impor sebesar USD 120 miliar lainnya diturunkan menjadi 7,5%. Untuk impor produk dari China (termasuk pakaian, mainan, dan elektronik) senilai USD 156 miliar yang direncanakan akan dikenakan tarif 15%, akhirnya dibatalkan. 

Sebagai imbal balik penghapusan tarif ini, China berkomitmen membeli barang-barang dari AS senilai USD 200 miliar dan produk pertanian AS sebesar USD 40 miliar selama 2 tahun ke depan. China mengumumkan akan menurunkan tarif impor untuk lebih dari 850 produk mulai Januari 2020. Sebagai contoh tarif impor daging babi beku turun dari 12% menjadi 8% untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat. Tarif impor alpukat beku turun dari 30% menjadi 7%, dan tarif impor ferroniobium dari 1% menjadi 0% untuk pengembangan teknologi tinggi.

Tensi geopolitik antara AS dan Iran meningkat, setelah serangan udara AS dilaporkan menewaskan petinggi militer Iran. Kekhawatiran pecahnya perang di kawasan Timur Tengah menekan pergerakan mayoritas bursa saham regional. Harga minyak global naik diatas USD 68 per barel dan komoditas emas menanjak diatas level USD 1.552 per ounce minggu lalu.

Dari domestik, laju inflasi Indonesia bulan Desember mencapai 0,34% mom atau tercatat 2,72% secara tahunan. Secara bulanan, tekanan harga meningkat pada komponen bahan makanan (+0.78% mom), makanan jadi (+0,29% mom) dan transportasi (+0,58% mom). Jelang hari Natal, Tahun Baru, dan libur sekolah mendorong permintaan barang dan ongkos transportasi meningkat. Tekanan inflasi bulanan Desember 2019 tercatat menjadi inflasi bulanan terendah sejak Desember 2009. Hal ini menggambarkan melemahnya daya beli masyarakat menjelang akhir tahun 2019.

Pada awal Januari 2020, Pertamina memangkas harga sejumlah BBM non subsidi dengan kisaran 6,6%-12,8%. Harga Pertamax turun dari IDR 9.850/ltr menjadi IDR 9.200/ltr, Pertamax Turbo turun dari IDR 11.200/ltr menjadi IDR 9.900/ltr, Pertamina Dex turun dari IDR 11.700/ltr menjadi IDR 10.200/ltr, Dexlite turun dari IDR 10.200/ltr menjadi IDR 9.500/ltr.

Dari ekonomi Jepang, indikator Jibun Bank Japan Manufacturing PMI bulan Desember 2019, turun ke level 48,4 dari level 48,9 di bulan sebelumnya. Kontraksi sektor manufaktur Jepang disebabkan menurunnya output produksi, order baru yang diterima pabrikan, dan ekspor yang lesu.

Dari ekonomi Eropa, indikator manufaktur IHS Markit PMI Uni Eropa bulan Desember turun ke level 46,3 dari 46,9 di bulan sebelumnya. Kontraksi sektor manufaktur Eropa didorong makin turunnya order baru yang diterima pabrikan dan output produksi.

Dari ekonomi China, indikator manufaktur resmi pemerintah China di bulan Desember 2019 stabil di level 50,2 seperti bulan sebelumnya. Ekspansi sektor manufaktur China ditopang meningkatnya pertumbuhan order baru, output produksi dan penjualan ekspor. Sedangkan indikator manufaktur Caixin PMI sedikit turun dari 51,8 menjadi 51,5 di bulan yang sama. Pertumbuhan order baru dan ekspor melambat, sementara output produksi tetap menanjak.

PBOC memangkas rasio cadangan minimum (RRR) sebesar 50 bps efektif 6 Januari 2020, untuk mendorong pertumbuhan kredit dan menekan biaya kredit. RRR untuk bank besar menjadi 12,5% dari 13,0%.

Dari sisi ekonomi AS, indikator manufaktur IHS Markit Manufacturing PMI sedikit menurun dari level 52,5 menjadi 52,4 di bulan Desember 2019. Output dan ekspansi bisnis tumbuh moderat, ditengah serapan tenaga kerja yang menguat. Berbeda dengan IHS Markit, indikator ISM Manufacturing PMI Desember turun ke level 47,2 dari level 48,1 di bulan November. Kontraksi sektor manufaktur AS masih terjadi seiring turunnya order baru, order ekspor, produksi dan serapan tenaga kerja. Indikator ISM PMI ini merupakan yang terendah sejak Juni 2009, yang tercatat pada level 46,3.

Kontrak penjualan stok rumah (pending homes sales) tumbuh 1,2% mom (+7,4% yoy) di bulan November 2019, setelah dibulan sebelumnya turun 1,3% mom (+4,9% yoy). Kontrak penjualan rumah ini mencatat kenaikan tahunan tertinggi sejak Jun 2015.

 Klaim tunjangan pengangguran mingguan (per 28 Desember 2019) turun 2 ribu aplikasi menjadi 222 ribu aplikasi. Rerata 4 mingguannya tercatat naik 4.750 aplikasi menjadi 233.250 aplikasi dari minggu sebelumnya. Klaim manfaat pengangguran ini masih lebih rendah dari rerata sepanjang periode 1967-2019 sebesar 350.860 ribu aplikasi.


Minggu II Januari 2020 

 

Beberapa indikator ekonomi yang perlu dicermati pekan depan antara lain 

 

                • USA: Neraca perdagangan, factory orders, ADP Employment Change, klaim tunjangan pengangguran mingguan, rerata pendapatan tenaga kerja perjam

                Jepang: Consumer confidence index, LEI, CEI 

                China: Laju inflasi, producer price index 

                • EU: Penjualan retail, laju inflasi, business climate indicator, consumer confidence index, producer price index

                • Indonesia: Cadangan devisa