Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Market Data
4 Emiten BUMN Akan "Rights Issue" Rp 28,11 T: ANTM, BMRI, ADHI, WSKT
January 20, 2015 14:04

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bakal menggelar penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue) senilai total Rp 28,11 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp 17,5 triliun akan diserap pemerintah melalui penyertaan modal negara (PMN), sedangkan Rp 10,6 triliun lainnya dialokasikan kepada pemegang saham publik. Penambahan modal diperkirakan mampu mendongkrak kinerja keuangan empat emiten pelat merah tersebut.

Aneka Tambang (Antam) akan melangsungkan rights issue senilai Rp 10,77 triliun dengan PMN Rp 7 triliun, Bank Mandiri Rp 9,3 triliun (PMN Rp 5,6 triliun), Waskita Rp 5,3 triliun (PMN Rp 3,5 triliun), dan Adhi Karya membidik rights issue Rp 2,74 triliun dengan PMN Rp 1,4 triliun.

Lewat aksi korporasi itu, rugi bersih Antam tahun ini diproyeksikan turun menjadi Rp 924,28 miliar. Pada 2016, 2017, dan 2018, Antam diestimasikan meraup laba bersih masing-masing Rp 560,59 miliar, Rp 810,76 miliar, dan Rp 1,52 triliun. Sedangkan laba bersih Waskita setelah rights issue diestimasikan menjadi Rp 1,04 triliun pada 2015, Rp 2,07 triliun pada 2016, Rp 4,01 triliun pada 2017, Rp 5,04 triliun pada 2018, dan Rp 6,27 triliun pada 2019.

Adapun Adhi, dengan adanya rights issue, diestimasikan meraup laba bersih Rp 430,20 miliar pada 2015, Rp 521, 97 miliar pada 2016, Rp 619,82 miliar pada 2017, dan Rp 698,51 miliar pada 2018. Sementara itu, penyaluran kredit Bank Mandiri setelah rights issue diproyeksikan mencapai Rp 635 triliun pada 2015, Rp 756 triliun pada 2016, Rp 900 triliun pada 2017, dan Rp 1.516 pada 2020. Proyeksi 2020 meningkat Rp 164 triliun dibanding tanpa rights issue yang mencapai Rp 1.352 triliun.

Direktur Utama Antam Tato Miraza mengungkapkan, hasil rights issue perseroan akan digunakan untuk mendanai pembangunan proyek anode slime (produk sampingan dari proses pemurnian konsentrat tembaga). “Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai US$ 32 juta pada 2015 dan US$ 8 juta pada 2016,” kata Tato di sela rapat kerja Menteri BUMN Rini M Soemarno dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (19/1).

Tato menambahkan, suntikan modal dari pemerintah itu juga akan digunakan untuk membiayai pembangunan proyek smelter grade alumina Mempawah, Kalimantan Barat. Emiten bersandi saham ANTM itu bakal menyerap dana hasil rights issue sekitar US$ 217,5 juta hingga tahun 2018. Pada 2015, proyek Mempawah diestimasikan menyerap dana rights issue sebesar US$ 32 juta, pada 2016 sebesar US$ 75 juta, pada 2017 senilai US$ 98 juta, dan pada 2018 sekitar US$ 22,5 juta.

Berikutnya, menurut Tato Miraza, Antam akan memanfaatkan dana rights issue untuk pengerjaan proyek feronikel Halmahera Timur. Proyek tersebut menelan total investasi hingga US$ 640 juta. Sepanjang 2015, proyek Halmahera Timur bakal menyerap US$ 256 juta, pada 2016 sebesar US$ 320 juta, dan pada 2017 sekitar US$ 64 juta.

Dalam bahan pemaparan yang disampaikan Antam ke DPR, dengan segala bentuk investasi tersebut, laba bersih Antam diproyeksikan tumbuh signifikan. Dengan adanya PMN, rugi bersih Antam pada 2015 bisa diturunkan menjadi Rp 924,28 miliar. Pada 2016, Antam diestimasikan meraup laba bersih Rp 560,59 miliar, naik menjadi Rp 810,76 miliar pada 2017, dan pada 2018 melonjak menjadi Rp 1,52 triliun.

Dengan adanya PMN, pendapatan Antan diestimasikan mencapai Rp 9,88 triliun pada 2015, naik menjadi Rp 12,76 triliun pada 2016, Rp 17,61 triliun pada 2017, dan Rp 19,06 triliun pada 2018. “PMN ini kami harapkan dapat direalisasikan. Suntikan modal ini memang yang kami harapkan. Dengan begitu, kami optimistis bisa mencapai target laba dan pendapatan,” tutur Tato.

Rencana Mandiri

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, perseroan akan menggunakan suntikan modal pemerintah untuk ekspansi kredit dan pemenuhan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) requirement Basel III. “Dana hasil rights issue ini untuk persiapan kami menuju Basel III. Kami harapkan tahun ini kredit perseroan bertumbuh 15-17%,” ujar dia.

Berdasarkan bahan pemaparan Kementerian BUMN kepada Komisi VI DPR, PMN akan memberikan ruang ekspansi kredit kepada Bank Mandiri sampai tahun 2020. Dengan adanyarights issue, penyaluran kredit Bank Mandiri diharapkan mencapai Rp 635 triliun pada 2015, naik menjadi Rp 756 triliun pada 2016, Rp 900 triliun pada 2017, Rp 1.070 triliun pada 2018, Rp 1.273 triliun pada 2019, dan Rp 1.516 pada 2020. Proyeksi 2020 itu meningkat Rp 164 triliun dibanding tanpa rights issue sebesar Rp 1.352 triliun.

Melalui aksi korporasi tersebut, CAR Bank Mandiri diproyeksikan sebesar 16,54% pada 2015, 16,66% pada 2016, 16,89% pada 2017, 17,00% pada 2018, 17,50% pada 2019, dan 17,50% pada 2020. Jika tidak melakukan rights issue, CAR Bank Mandiri diestimasikan sebesar 16,22% pada 2019 atau di bawah ketentuan Basel III sebesar 17,50%.

Harapan Adhi Karya

Sementara itu, Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan berharap rights issue bisa terealisasi agar perseroan dapat mendanai proyek angkutan massal monorel pada 2015. Adhi Karya tengah mengajukan izin kepada pemerintah untuk membangun tiga jalur monorel, yakni Bekasi Timur-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Kuningan. Pengerjaan monorel dilakukan dengan skema konsorsium BUMN. Total panjang monorel mencapai 39 km.

“Total investasi monorel itu berkisar Rp 9-10 triliun. Kalau PMN dizinkan DPR, kami ingin monorel dibangun pada 2015. Tahap I akan dikerjakan dalam waktu tiga tahun. ” papar dia.

Dalam bahan persentase Kementerian BUMN, Adhi Karya bakal menyerap dana rights issuesebesar Rp 1,89 triliun untuk pengerjaan angkutan massal dan Rp 852 miliar untuk pembangunan stasiun beserta properti pendukung.

Untuk menutupi kebutuhan dana, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham ADHI tersebut akan mencari pinjaman senilai Rp 7,16 triliun, dengan rincian Rp 4,41 triliun untuk angkutan massal dan Rp 2,74 triliun untuk stasiun dan properti pendukung. “Kami yakin kalau rights issue terlaksana, izin pembangunan monorel ini juga bisa disetujui,” tandas dia.

Setelah rights issue, kata Kiswodarmawan, laba bersih Adhi Karya pada 2015 diestimasikan menjadi Rp 430,20 miliar, pada 2016 menjadi Rp 521, 97 miliar, pada 2017 sekitar Rp 619,82 miliar, dan pada 2018 mencapai Rp 698,51 miliar. Sedangkan pendapatan diproyeksikan sekitar Rp 13,26 triliun pada 2015, Rp 14,58 triliun pada 2016, Rp 15,88 triliun pada 2017, dan Rp 19,09 triliun pada 2018.

Optimisme Waskita

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan Waskita Karya Antonius Yulianto Tyas Nugroho optimistis mampu melanjutkan berbagai target pengerjaan jalan tol jika aksi rights issue terealisasi. “Bagaimana detailnya, nanti saja kalau PMN ini sudah disetujui. Memang prosesnya agak panjang,” ucap dia.

Dalam bahan pemaparan Kementerian BUMN, Waskita Karya berencana melanjutkan pembangunan lima ruas jalan tol senilai total Rp 12,64 triliun dengan porsi dana hasil rights issue Rp 3,16 triliun, proyek transimisi 500 KV Sumatera senilai total Rp 5,24 triliun dengan porsi rights issue Rp 1,32 triliun. Itu belum termasuk dua proyek tol lain senilai Rp 3,46 triliun dengan porsirights issue Rp 867 miliar.

“Dengan demikian, total proyek yang akan digarap emiten berkode saham WSKT itu mencapai Rp 21,63 triliun dengan porsi dana hasil rights issue senilai Rp 5,34 triliun,” papar Antonius.

Dengan adanya rights issue, menurut dia, laba bersih Waskita diproyeksikan menjadi Rp 1,04 triliun pada 2015, Rp 2,07 triliun pada 2016, Rp 4,01 triliun pada 2017, Rp 5,04 triliun pada 2018, dan Rp 6,27 triliun pada 2019. Sedangkan pendapatan diestimasikan Rp 19,68 triliun pada 2015, Rp 22,56 triliun pada 2016, Rp 34,10 triliun pada 2017, Rp 47,07 triliun pada 2018, dan Rp 67,56 triliun pada 2019.

Menteri BUMN Rini M Soemarno mengemukakan, rights issue Antam, Bank Mandiri, Waskita, dan Adhi Karya merupakan bagian dari PMN yang diberikan pemerintah kepada 35 BUMN di bawah pengawasan Kementerian BUMN. “Tahun ini saja, nilai total PMN-nya sekitar Rp 48,05 triliun,” kata dia.

Dia menjelaskan, pemerintah menyuntikkan modal kepada lima emiten BUMN hingga senilai Rp 18,46 triliun. Dari jumlah itu, empat emiten akan mengantongi penambahan modal melalui rights issue, yakni Antam, Bank Mandiri, Waskita Karya, dan Adhi Karya. Pemerintah berkomitmen mengeksekusi Rp 17,5 triliun dari total saham baru yang akan diterbitkan senilai Rp 28,11 triliun.

Satu emiten BUMN lainnya, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), mendapatkan PMN Rp 956,49 miliar. Namun, PMN itu dibukukan dari kapitalisasi laba berjalan Krakatau Steel periode Januari-Juni 2010, sebelum perseroan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Komisi VI DPR dan Kementerian BUMN akan menggelar kembali rapat kerja untuk membahas PMN pada 3 Februari 2015. Investor Daily