Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Weekly Update
Weekly Report - Few Months Later
November 26, 2014 09:04

Per tanggal 18 November 2014, Pemerintah menetapkan kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi yaitu sekitar 30,7% untuk bensin premium menjadi Rp8.500/liter. Harga BBM subsidi telah beberapa kali mengalami penyesuaian. Pada tahun 2005 harga bensin premium dari Rp1.810/ liter naik menjadi Rp2.400/liter di bulan Mei dan naik kembali pada bulan Oktober menjadi Rp4.500/liter. Bulan Mei 2008 harga bensin premium kembali meningkat menjadi Rp6.000/ liter sebelum akhirnya menyentuh Rp5.000/liter di akhir tahun. Tahun 2013 harga bensin premium meningkat menjadi Rp6.500/liter di bulan Mei.

Dampak kenaikan harga BBM subsidi dapat dilihat pada indikator perekonomian seperti inflasi. Kenaikan laju inflasi akan meningkatkan yield obligasi, disebabkan antisipasi pasar pada masa sebelum kenaikan BBM meningkatkan required yield. Hal tersebut dapat dilihat di Exhibit 1. Pasca kenaikan harga BBM bersubsidi pada Mei 2005 menyebabkan yield index terus meningkat hingga Agustus 2005 dengan total peningkatan sebesar 4,13%. Sedangkan pada Mei 2008, efek kenaikan harga BBM memicu kenaikan yield hingga mencapai puncaknya pada bulan Juni, dengan kenaikan sebesar 67bps. Pada tahun 2013, kenaikan harga bbm subsidi pada bulan Juni diiringi dengan kebijakan bank sentral menaikkan BI rate sebesar 25bps, yield index meningkat 1,22% mencapai 7,20%. Pada bulan berikutnya, BI rate kembali naik 50bps, yield index meningkat sebesar 0,71% hingga mencapai 7,92%. Pada bulan Agustus untuk ketiga kalinya, BI rate kembali mengalami peningkatan sebesar 50bps sehingga terjadi kenaikan yield index sebesar 0,62% menjadi 8,54%.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya di mana yield index meningkat pasca kenaikan harga bbm subsidi, kenaikan bbm subsidi tahun ini tidak serta merta disertai dengan kenaikan yield secara keseluruhan. Per tanggal 24 November 2014, yield index masih melanjutkan penurunan mencapai 7,85% atau turun sebesar 17,8bps dibandingkan per tanggal 18 November 2014. Hal ini dipicu oleh kepemilikan asing yang masih terus meningkat sampai dengan 21 November 2014. Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah meningkat Rp10,10 Triliun mencapai Rp 470,90 Triliun atau secara proporsi sebesar 38,57%.