Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
IDX News
IHSG Diperkirakan antara 5.837-5.960 Poin
October 12, 2017

StockWatch (Jakarta) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak antara 5.837-5.960 poin pada perdagangan Kamis (12/10). Demikian dikemukakan oleh William Surya Wijaya, analis Asjaya Indosurya Securities, Jakarta, Rabu (11/10) petang. IHSG ditutup turun 22,975 poin (0,389%) menjadi 5.882,787 poin, Rabu (11/10). Penurunan IHSG tersebut, antara lain disebabkan oleh kemerosotan harga saham sejumlah emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp200 triliun, yaitu HM Sampoerna Tbk (HMSP), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Untuk perdagangan Kamis (12/10), William merekomendasikan “beli” saham Waskita Beton Precast (WSBP) degan target harga Rp690 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada keuangan perseroan yang tumbuh solid. Per Agustus 2017, WSBP meraih penjualan Rp4,14 triliun dan laba Rp678 miliar. Kontrak baru WSBP pada Januari-Agustus 2017 mencapai Rp7 triliun, atau 56,6% dari target kontrak tahun ini sebesar Rp12,2 triliun. Menurut William, saham Indofood Sukses Makmur (INDF) juga layak dibeli investor. Secara teknis, saham emiten produsen mie instan itu berpeluang naik ke Rp9.500 dalam jangka menengah. Ini seiring permintaan terhadap produk perseroan yang tetap tinggi saat ini. Aspek fundamental perseroan juga kuat setidaknya hingga semester I 2017. Dari penjualan Rp35,65 triliun, INDF membukukan laba Rp2,27 triliun. Pencapaian tersebut akan mendorong investor memburu saham emiten makanan dan minuman itu ke depan. Emiten lain yang sahamnya direkomendasi beli oleh William adalah London Sumatra Indonesia (LSIP) jika harganya bertahan di atas Rp1.400. William memperkirakan, saham emiten perkebunan kelapa sawit dan produsen CPO itu berpotensi naik ke Rp1.650. Hingga semester I 2017, LSIP meraih laba Rp459,5 miliar, tumbuh 308% dari Rp112,6 miliar. Laba yang tumbuh akan mendorong kenaikan harga saham LSIP nanti. William juga merekomendasikan ’beli’ saham Bank Central Asia (BBCA) dengan target harga Rp23.000 per unit dalam jangka pendek. Menurut William, investor boleh membeli saham emiten perbankan tersebut sepanjang harganya bertahan di Rp19.900 per unit. Potensi kenaikan harga saham BBCA cukup besar seiring keuangan yang solid. (konrad)