Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Berita Danareksa

BI Kembali Melonggarkan Kebijakan Moneter dengan Menurunkan BI 7-DayReverse Repo Rate Sebesar 25 bps
September 23, 2016 09:31 WIB

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 September 2016memutuskan untuk menurunkan BI 7-dayReverse Repo Rate  (BI 7-day RR Rate)sebesar 25 bps dari 5,25% menjadi 5,00%, dengan suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps menjadi 4,25% dan Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,75%,berlaku efektif sejak 23 September 2016. Pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan BI 7-day RR Rate tersebut sejalan dengan berlanjutnya stabilitas makroekonomi, yang tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relatif stabil.Di tengah masih lemahnya perekonomian global, pelonggaran kebijakan moneter tersebut diharapkan dapat lebih memperkuat upaya untuk mendorong permintaan domestik guna terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia meyakini bahwa pelonggaran kebijakan moneter tersebut akan memperkuat kebijakan yang ditempuh Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui percepatan implementasi reformasi struktural. Bank Indonesia juga terus berkoordinasi bersama Pemerintah menyiapkan langkah kebijakan agar implementasi UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dapat berdampak optimal bagi perekonomian nasional.

 

Ekonomi global berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya disertai dengan penurunan volume perdagangan dunia yang cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi AS pada 2016 diperkirakan lebih rendah dari perkiraan semula, seiring dengan masih lemahnya investasi. Lemahnya pemulihan ekonomi AS dan masih tingginya ketidakpastian yang membayangi ekonomi AS mengakibatkan dipertahankannya suku bunga kebijakan AS atau Fed Fund Rate (FFR) dan diperkirakan hanya akan mengalami kenaikan satu kali pada tahun 2016. Sementara itu, masih lemahnya aktivitas investasi dan konsumsi di Eropa, semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi Eropa. Potensi pelemahan ekonomi juga dialami Tiongkok, sejalan dengan melambatnya investasi, pengeluaran pemerintah, dan masih lemahnya konsumsi.Di pasar komoditas, harga minyak dunia menurun, sejalan dengan terus meningkatnya produksi minyak OPEC. Sementara itu, harga beberapa komoditas ekspor Indonesia sedikit membaik, terutamaCPO.  

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III2016 masih terjaga dengan baik, meskipuntidak sekuat perkiraan sebelumnya. Berbagai indikator menunjukkan Konsumsi Rumah Tangga masih cukup kuat, sementara investasi nonbangunan terindikasi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Minat investasi swasta diperkirakan masih belum kuat, sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan oleh sektor korporasi sebagai respon pemintaan yang belum sepenuhnya pulih. Sementara itu, stimulus fiskaldiperkirakan masih terbatas, sejalan dengan  penyesuaian belanja  pemerintah pada semester II 2016. Dari sisi eksternal,masih lemahnya ekonomi dan perdagangandunia mengakibatkan perbaikan ekspor masih tertahan, meski harga beberapakomoditas ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia memandang berbagai langkah masih diperlukan untuk meningkatkan permintaan domestik guna terus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan masih akan berada di kisaran 4,9 - 5,3% (yoy).

 

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada bulan Agustus 2016, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$0,29 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Juli 2016 sebesar US$0,51 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut didorong oleh menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas, antara lain, didorong oleh peningkatan impor bahan baku dan barang modal seperti impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, sertaplastik dan barang dari plastik. Hal ini memberikan indikasi membaiknya aktivitas ekonomi domestik.  Di sisi lain, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia hingga Agustus 2016 telah mencapai 11,1miliar dolar AS, lebih tinggi dari aliran masuk modal asing untuk keseluruhan tahun 2015.Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2016 tercatat sebesar US$113,5 miliar, atau setara 8,7 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

 

Rupiah melemah terbatas pada Agustus 2016, namun kembali menguat di September 2016.  Nilai tukar Rupiah pada Agustus 2016, secara rata-rata, terdepresiasi sebesar 0,39% dan mencapai level Rp 13.163 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah lebihdipengaruhi oleh sentimen eksternal terkaittiming kenaikan FFR paska FOMC minutesJuli 2016. Namun demikian, pada pertengahan September 2016 nilai tukar rupiah kembali menguat sebesar 0,8%. Penguatan tersebut didorong olehmeningkatnya aliran masuk modal asing, seiring dengan meredanya sentimen terkaittiming kenaikan FFR pada September 2016 dan berlanjutnya implementasi UU Pengampunan Pajak. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

 

Inflasi berada pada level yang rendah dan diperkirakan akan berada pada kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1%. Tekanan harga mereda pasca Idul Fitri dan mencatat deflasi sebesar 0,02% (mtm) di bulan Agustus 2016. Deflasi tersebut lebih rendah dari perkembangan harga pada periode pasca Idul Fitri dalam lima tahun terakhir, yang biasanya masih mencatat inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 1,74% (ytd) dan 2,79% (yoy). Deflasi IHK pada bulan Agustus 2016 terutama bersumber dari deflasi komponen volatile foods (VF) dan komponenadministered prices (AP), seiring dengan koreksi harga pasca Idul Fitri. Kelompok VF mencatat deflasi sebesar 0,80% (mtm) atau secara tahunan mencatat inflasi sebesar 5,28% (yoy). Penurunan harga secara bulanan tersebut terutama bersumber dari koreksi harga beberapa komoditas bahan pangan. Kelompok AP mencatat deflasi sebesar 0,52% (mtm) atau 0,91% (yoy), didorong oleh koreksi pada tarif angkutan antar kota, angkutan udara, dan kereta api. Sementara itu, inflasi inti tercatat cukup rendah, yaitu sebesar 0,36% (mtm) atau 3,32% (yoy), sejalan dengan masih terbatasnya permintaan domestik, terkendalinya ekspektasi inflasi dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah. Dengan perkembangan tersebut, inflasi diperkirakan akan mendekati batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016.

 

Sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan yang terjaga. Pada Juli 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 22,9%,  dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,8%. Sementara itu,rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) mengalami peningkatan menjadi sebesar 3,2% (gross) atau 1,5% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit.Namun, transmisi melalui jalur kredit belum optimal, terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih terbatas. Pertumbuhan kredit Juli 2016 tercatat sebesar 7,7% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,9% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2016 tercatat sebesar 5,9% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya. Bank Indonesia meyakini pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan dapat meningkatkan pertumbuhan kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.

 

Jakarta, 22 September 2016

Departemen Komunikasi

 

Tirta Segara

Direktur Eksekutif



Analis Danareksa: Asing bakal terus membanjiri SBN
August 23, 2016 09:05 WIB

Investor asing diprediksi akan terus membanjiri pasar obligasi pemerintah Indonesia. Head of Debt Research Danareksa Sekuritas Yudistira Slamet menduga, hingga akhir tahun 2016, bakal ada dana asing minimal Rp 10 triliun yang masuk ke pasar SBN.

Soalnya, imbal hasil yang ditawarkan SBN cukup menggiurkan. Mengacu Asian Bonds Online per 19 Agustus 2016, yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun tercatat 6,81%.

Angka tersebut mengungguli yield obligasi bertenor sama milik pemerintah China 2,69%, Jepang minus 0,08%, Singapura 1,73%, serta Thailand 2,07%.

"Kalau diperhatikan, di beberapa negara besar, yield obligasi pemerintah sudah negatif terutama untuk tenor satu tahun hingga lima tahun," tukasnya.

Sentimen positif juga akan bersumber dari terbukanya ruang penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI). Jika suku bunga BI mengecil, harga obligasi berpeluang menanjak. Kesempatan meraih kenaikan harga (capital gain) obligasi ini akan menarik minat investor.

Oleh karena itu, Yudistira menyarankan investor untuk memarkirkan dana pada obligasi negara bertenor panjang. Maklum, yield obligasi pemerintah berpotensi menyusut hingga tahun depan. Obligasi negara bertempo lama akan mengais capital gain lebih tinggi jika pasar bullish.

"Kalau bisa lebih dari 15 tahun. Sisa tahun 2016 yield turun tidak signifikan. Tahun depan yield pasti turun lagi," paparnya.

Mengacu situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 19 Agustus 2016, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan sebanyak Rp 676,44 triliun, level tertinggi selama ini.

Porsi asing tersebut mencapai 39,46% dari total outstanding Rp 1.714,37 triliun. Angka tersebut melonjak 21,11% dari posisi akhir tahun 2015 yang tercatat Rp 558,52 triliun.



Investasi Sukuk Tabungan, Bisa Beli Mulai Rp 2 Juta
August 19, 2016 10:13 WIB

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal mengeluarkan instrumen surat utang syariah baru, yakni Sukuk Tabungan ST-001. Sukuk ini akan ditawarkan ada 22 Agustus sampai 2 September 2016.

Demikian disampaikan Dian Handayani, Kepala Seksi Pelayanan Publik dan Hubungan Investor, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu di acara Pre Marketing ST-001 di Hotel Lumire, Jakarta, Rabu (10/8/2016).

Dian menuturkan, sukuk tabungan merupakan produk baru yang berbeda dengan sukuk ritel. Sukuk tabungan memiliki tenor 2 tahun, imbalan tetap yang dibayar per bulan, dan minimum pembelian Rp 2 juta.

Sementara untuk sukuk ritel, tenor minimum ditetapkan 3 tahun, imbalan tetap dibayar setahun sekali, dan pembelian minimum Rp 5 juta.

"Perbedaan lainnya sukuk ritel bisa diperdagangkan di pasar sekunder, kalau sukuk tabungan tak bisa. Sebagai gantinya, kita berikan fasilitas early redemption, yakni pemerintah akan berikan tebusan untuk pelunasan di tahun pertama setelah diterbitkan, tapi hanya 50% saja," jelas Dian.

Lebih jauh tentang ST-001, harga per unitnya sebesar Rp 1 juta dengan minimum pemesanan Rp 2 juta, dan maksimum pemesanan Rp 5 miliar. Setelmen sukuk tabungan pertama ini sendiri akan dimulai pada 7 September 2016 setelah masa penjatahan selesai pada 5 September sebelumnya.

"Untuk imbalan nanti akan dibayar sebulan sekali. Imbalannya dihitung per tahun, tapi nilai imbalannya baru akan ditetapkan pada 19 Agustus 2016 nanti," terang Dian.

Untuk lokasi pembelian sendiri, ST-001 ini bisa dibeli di 20 bank serta 6 perusahaan efek yang sudah ditunjuk Kementerian Keuangan.

"Jika ingin membeli, datang ke 20 bank atau 6 efek yang ditunjuk, syaratnya hanya membawa KTP. Artinya yang membeli harus warga negara Indonesia," pungkasnya.

Sukuk Tabungan ST-001 dapat dipesan saat masa penawaran, yaitu dari tanggal 22 Agustus 2016 hingga 02 September 2016. Untuk informasi lebih lanjut hubungi Call Center Danareksa di 1500-688 atau callcenter@danareksa.com