Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Berita Danareksa

IHSG Cenderung Menguat Terbatas, Uji Level Tertinggi 52 Minggu
July 19, 2016 09:58 WIB

PT Danareksa Sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) cenderung menguat terbatas pada perdagangan Selasa (19/7/2016). Analis teknikal PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan hari ini IHSG cenderung menguat terbatas untuk menguji level 5.133 sebagai level tertinggi selama 52 minggu sebelumnya hingga level tertinggi pada kisaran 5.155.

“Potensi tersebut disertai dengan kinerja IHSG yang berada di atas rata-rata selama 20 hari dan 50 hari sebelumnya,” katanya, Selasa (19/7/2016). Menurutnya, kinerja IHSG masih berada dalam teritori uptrend dan berada di atas area resisten dengan sinyal positif



Analis Danareksa: Suntikan modal negara mengangkat pamor PTPP
July 19, 2016 09:57 WIB

Kepastian adanya penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 2,23 triliun mendorong PT PP Tbk (PTPP) menyiapkan perhelatan rights issue dengan target dana Rp 4,41 triliun. PTPP menjual 1,78 miliar saham baru dengan target pelaksanaan paling lambat Oktober 2016.

Suntikan dana ini bisa menjadi sentimen positif bagi PTPP. Pasar akan lebih tertarik pada emiten dengan dana likuid yang besar. "Likuiditas bisa menjadi kunci tumbuh kembang perusahaan," kata Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, Senin (18/7).

Sebenarnya, perseroan ini memiliki kas yang lumayan. Per akhir Maret 2016, kas PTPP mencapai Rp 1,48 triliun. Dengan tambahan suntikan modal, kas PTPP akan membengkak dan ekspansi bisa lebih luas.

Lucky memprediksi, kinerja PTPP masih menarik karena sektor konstruksi dan infrastruktur berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah. Di sisi lain, saham PTPP saat ini dalam kondisi jenuh beli. Namun, PMN bisa menjadi salah satu pertimbangan membeli saham PTPP.

"Pada prinsipnya, pasar melihat secara sektoral PTPP ini masih memiliki ruang pertumbuhan," jelas Lucky.

PTPP akan menggunakan suntikan modal dari pemerintah ini untuk menggarap proyek ruas jalan tol yang telah dikuasai dan menyelesaikan pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung. PTPP pun akan mengalokasikan Rp 500 miliar untuk anak usahanya, PT PP Properti Tbk (PPRO).

Lucky menilai, seharusnya dana PMN tersebut hanya untuk PTPP. Sebab PPRO sebenarnya juga memiliki likuiditas yang cukup. Memang, kalau berdasarkan good corporate governance, anak usaha harus memperoleh kontribusi dari induk usahanya.

"Namun, seharusnya PPRO berdiri secara mandiri untuk persoalan fundamental," lanjut Lucky.



Dana asing banjiri lagi pasar Indonesia
July 13, 2016 10:05 WIB

 Usai libur panjang Idul Fitri, wajah pasar finansial Indonesia ceria. Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan kemarin (11/7) menanjak 1,96% menjadi 5.069. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah menguat 0,45% menjadi Rp 13.112 per dollar AS. Sepanjang tahun ini, IHSG naik 10,36%. Kinerja indeks saham Indonesia terbaik kedua di kawasan Asia, di bawah indeks bursa Thailand. Di periode sama, rupiah menguat 5% terhadap dollar AS.

Para pemodal asing semakin yakin dengan prospek pasar Indonesia dan terus masuk Bursa Efek Indonesia. Sepanjang tahun ini, total net buy investor asing telah mencapai Rp 14,53 triliun. Sementara catatan Bank Indonesia (BI), total dana asing yang masuk Indonesia mencapai Rp 97 triliun sepanjang enam bulan terakhir "Nilai ini jauh di atas tahun lalu," kata Agus Martowardojo, Gubernur BI, kemarin.

Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, menilai, kecemasan pasar terkait koreksi harga minyak sudah berkurang. Iklim investasi Indonesia pun cenderung membaik didorong oleh sejumlah sentimen. Mulai dari proyek infrastruktur pemerintah dan program pengampunan pajak (tax amnesty). Asing masih tertarik berinvestasi di pasar Tanah Air karena kebijakan pemerintah berpihak pada pasar alias market friendly. "Kebijakan Presiden Jokowi mulai ada titik terang terutama dari sektor infrastruktur," ujar Lucky.

Ia memprediksi, dana asing yang masuk masih berpotensi tumbuh 19% dari saat ini. Ekonom Bank Central Asia, David Sumual berharap beleid pengampunan pajak dapat diterapkan dan membawa aliran dana ke dalam negeri sehingga berpotensi memperkuat rupiah. Tapi ketidakpastian penerapan UU Tax Amnesty masih tinggi, apalagi muncul gugatan ke Mahkamah Konstitusi. "Ini bisa membawa sentimen negatif bagi rupiah," kata dia. David memprediksi, rupiah sampai akhir tahun berpeluang menguat, tapi tak signifikan. "BI tidak akan membiarkan rupiah terlalu menguat tajam, karena mengurangi daya saing Indonesia di pasar ekspor," tutur dia. Tresuri bank Eropa di Singapura melihat, penguatan rupiah lebih karena faktor teknikal. "Ada peluang ke Rp 12.900 di jangka pendek, tapi cuma sebentar. Di akhir tahun malah bisa Rp 13.600, jika ekonomi AS membaik," terangnya


Download artikel selengkapnya(422.58 Kb)