Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Berita Danareksa

Laba Bersih Danareksa Meroket 235% Jadi Rp77 Miliar
March 24, 2015 08:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Perusahaan pelat merah PT Danareksa (Persero) membukukan laba bersih Rp77,3 miliar pada tahun lalu, meroket 235% dibandingkan dengan periode 2013 yang mencapai Rp23 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan Senin (23/3/2015), disebutkan laba bersih per saham juga melonjak tajam menjadi Rp110.281 dari setahun sebelumnya Rp32.914.

Total pendapatan usaha Danareksa sepanjang periode 2014 mencapai Rp607,22 miliar, berlipat dari setahun sebelumnya Rp378,44 miliar. Total beban usaha mencapai Rp489,4 miliar dari Rp335,13 miliar.

Laba usaha yang diraup badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mencapai Rp117,75 miliar dari setahun sebelumnya Rp43,31 miliar. Laba bersih tahun berjalan mencapai Rp77,35 miliar, melonjak dari tahun sebelumnya Rp23,08 miliar.

Laba komprehensif Danareksa pada 2014 mencapai Rp90,6 miliar, berbalik dibandingkan setahun sebelumnya yang masih membukukan rugi komprehensif sebesar Rp5,24 miliar.

Hingga 31 Desember 2014, total aset Danareksa mencapai Rp3,45 triliun, melonjak dari periode setahun sebelumnya Rp2,53 triliun. Liabilitas Danareksa mencapai Rp2,72 triliun dari Rp1,88 triliun dan ekuitas Rp734,5 miliar dari Rp643,9 miliar.



Dolar AS Harusnya di Rp 11.800
March 16, 2015 09:30 WIB

 Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Riset Danareksa Research Institute, menilai saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah jauh dari fundamentalnya. Menurut dia, posisi dolar AS yang sesuai fundamental adalah Rp 11.800.

"Sekarang ini rupiah sudah jauh dari fundamentalnya. Menurut kami, fundamental rupiah terhadap dolar AS ada di Rp 11.800/US$," kata Yudhi kepada detikFinance, Jumat (13/3/2015).

Dari posisi fundamental tersebut, lanjut Yudhi, memang ada peluang menguat atau melemah. Namun walau melemah, seharusnya tidak sampai ke Rp 13.000/US$.

"Ada kesalahan mengelola ekspektasi. Sebelumnya seakan-akan pemerintah dan bank sentral ingin rupiah melemah, dengan berbagai kebijakan dan pernyataan," sebutnya.

Misalnya adalah pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) yang beberapa kali menyebutkan bahwa pelemahan rupiah positif untuk mendorong kinerja ekspor. Pelaku pasar menerjemahkannya sebagai nilai tukar rupiah memang dibiarkan melemah.

Namun, Yudhi menilai sekarang pemerintah dan BI sudah mulai berubah. Pelaku pasar sudah melihat sikap (stance) dari pemerintah maupun BI yang berkomitmen untuk 'menjaga' nilai tukar rupiah.

"Pemerintah dan bank sentral sudah terlihat warna aslinya, sudah jelas stance-nya mau ke mana. Mereka tidak suka juga rupiah terlalu melemah," kata Yudhi.

Oleh karena itu, Yudhi memperkirakan ke depan rupiah akan semakin menguat. Level Rp 12.500/US$ akan cukup mudah dicapai dalam waktu dekat.

"Dalam waktu, let's say, 6 bulan ke depan kami perkirakan dolar AS bisa melemah ke Rp 12.000. Jadi prospek rupiah ke depan sepertinya akan cerah," ucapnya. detikFinance


Sukuk Negara Ritel - SUKRI SR-007
February 23, 2015 10:58 WIB

Pemerintah kembali menerbitkan Obligasi Negara tanpa warkat “SUKUK Negara Ritel ” (SUKRI) Seri SR-007, Danareksa Sekuritas ditunjuk menjadi penjual SR-007. Berikut detail SR-007:

Nama Penerbit

:

Pemerintah Republik Indonesia

Jangka Waktu

:

3 tahun

 

 

Tanggal Jatuh Tempo

:

11 Maret 2018

Tingkat Kupon

:

  • 8,25 %p.a
  • Pembayaran secara periodik setiap bulan

Satuan pembelian

:

  • Minimal Rp 5 Juta dan kelipatannya
  • Maksimum pembelian: Rp. 5.000.000.000,-

Pembeli Pasar Perdana

 

Individu

Nominal Pelunasan

:

At par (100%), Bullet Payment

Pencatatan

:

Bursa Efek Indonesia

Masa Penawaran

:

23 Feb 2015 – 6 Maret 2015

Settlement pasar perdana (distribusi elektronik)

:

12 Maret 2015

Pembayaran Kupon Pertama

:

11 April 2015

Masa penawaran       : 23 Feb 6 Maret 2015  ** sesuai ketersediaan kuota 

Pendebetan akan dilakukan pada tanggal 5 Maret 2015. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Call Center kami di (021) 500-688.