BERITA DANAREKSA

Lampaui Target, Penjualan ORI011 Capai Rp21.215 Triliun
October 20, 2014 13:50 WIB

Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) menetapkan Penjatahan Obligasi Negara Ritel seri ORI011 kepada individu atau orang perseorangan WNI.

Penerbitan ORI011, dalam pagu indikatif awalnya pemerintah menargetkan penjualan dan penjatahan sebesar Rp20 triliun. Sementara total volume pemesanan pembelian Obligasi Negara seri ORI011 yang ditawarkan pada masyarakat sampai dengan penutupan masa penawaran sebesar Rp21.336 triliun.

Namun sesuai dengan kewenangan yang diberikan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan dengan memperhatikan kebutuhan pembiayaan APBNP 2014 serta minat beli masyarakat terhadap ORI011, Dirjen Pengelolaan Utang, Robert Pakpahan menetapkan hasil penjualan dan penjatahan ORI011 sebesar Rp21.215 triliun.

"Target kita kan Rp20 triliun, namun hasilnya melebihi. Ini hasil yang menggembirakan, membanggakan karena ini murni investor domestik. Apalagi masyarakat individu bukan korporasi," tutur Robert di kantornya, Komplek Perkantoran Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2014).

Sementara itu, penjualan ORI011 dilakukan melalui 21 agen penjualan yang telah ditunjuk oleh pemerintah yakni terdiri dari 18 bank dan tiga perusahaan sekuritas.

Para agen tersebut yakni Citibank, N.A; PT Bank OCBC NISP, Tbk; PT Bank Panin, Tbk; PT Bank Permata, Tbk; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk; PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Bukopin, Tbk; PT Bank Central Asia, Tbk; dan PT Bank CIMB Niaga, Tbk.

Kemudian PT Bank Danamon Indonesia, Tbk; PT DBS, Tbk; PT Bank Internasional Indonesia, Tbk; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk; PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk; PT Bank UOB Indonesia; Standard Chartered Bank, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited; PT Danareksa Sekuritas; PT Trimegah Sekuritas, Tbk, dan PT Sucorinvest Central Gani. Sumber


"Marketing Sales" 4 Emiten Properti Ini 73% Target
October 16, 2014 09:26 WIB

Empat emiten di sektor properti hingga kuartal III-2014 mencatat pra penjualan(marketing sales) sebesar Rp 12,271 triliun, atau setara dengan 73 persen dari proyeksi marketing sales hingga akhir tahun ini.

Keempat emiten tersebut adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA).

"Berdasarkan jangka menengah dan panjang, prospek sektor properti masih bersinar," kata anails PT Danareksa, Anindya Saraswati dalam risetnya yang dipublikasikan, Rabu (15/9).

Anindya mengatakan, permintaan properti akan tetap bertumbuh, sehingga valuasi empat emiten ini masih cukup atraktif.

Alam Sutera Realty para periode Januari-Setember 2014 mencatat marketing sales Rp 3,432 triliun, atau 69,4 persen dari target sepanjang tahun ini sebesar Rp 4,946 triliun. "Permintaan tanah dan proyek di Alam Sutera terus menguat," kata Anindya.

Riset Danareksa menyatakan, seat ini perseroan mulai merubah segmen menjadi lahan komersial dibandingkan perumahan (residential land). Hal ini terlihat marketing sales Alam Sutera yang hingga kuartal III-2014 disumbangkan lahan komersial sebesar 61 persen dari total marketing sales, disusul proyek apartemen Kota Ayodhia (24 persen).

Sementara marketing sales BSD para sembilan bulan pertama 2014 mencapai Rp 4,7 trilliun, atau naik 4 persen (yoy) di luar penjualan lahan kepada perusahaan patungan. Total marketing salestersebut setara dengan 80,1 persen dari proyeksi sepanjang tahun ini sebesar Rp 5,870 triluin.

Mayoritas marketing sales BSD disumbang penjualan rumah dan tanah yang mencapai 41 persen dari total marketing sales. Adapun secara lokasi, BSD City Serpong merupakan penyumbang terbesar marketing sales mencapai 75 persen dari total.

Adapun Lippo Karawaci belum mengumumkan marketing sales hingga kuartal III-2014. Danareksa memperkirakan, marketing sales grup Liipo tersebut akan mencapai Rp 3,7 triliun mengacu para kinerja semester I-2014 yang mencapai Rp 1,639 triliun.

Danareksa menyatakan, target marketing sales Lippo Karawaci sepanjang tahun ini yang dipatok Rp 4,735 triliun diyakini akan tercapai. Proyek terbaru yang diluncurkan Holland Village akan menghasilkan marketing sales Rp 500 miliar.

Terakhir, marketing sales Metropolitan Land hingga kuartal III-2014 mencapai Rp 439 miliar hasil penjulaan enam proyek residensial. Angka tersebut setara dengan 65 persen dari proyeksi hingga akhir tahun ini sebesar Rp 679 miliar.

Danareksa berharap proyek Metland West City mengkontribusi sekitar 5 persen dari totalmarketing sales tahun ini. Sayangnya perseroan menunda proyek tersebut hingga awal 2015, menunggu nota kesepahaman dengan mitra kerja sama. Sumber



Danareksa Sebagai Arranger MTN BRI Senilai Rp 720 Miliar
October 15, 2014 08:03 WIB

Perkuat modal, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menerbitkan surat utang jangka menengah (medium terms notes/MTN) tahap I tahun 2014 seri A, B, dan C dengan total nilai mencapai Rp720 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, ketiga seri MTN Tahap I/2014 tersebut didistribusikan secara elektronik pada 10 Oktober 2014. MTN BRI tahap I tahun 2014 seri A senilai Rp300 miliar, menawarkan kupon bunga 8,75%. MTN seri A imemiliki tenor 370 hari dan akan jatuh tempo pada 15 Oktober 2015.

Sementara nilai emisi MTN seri B sebesar Rp60 miliar, memiliki tenor 24 bulan dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2015. Adapun nilai emsi MTN seri C mencapai Rp360 miliar, dengan tenor selama 36 bulan dan akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2017.

Frekuensi pembayaran bunga MTN dilakukan tiap tiga bulan, dengan tanggal pembayaran bunga pertama pada 10 Januari 2015. Bertindak sebagai agen pemantau dalam emisi MTN BRI ini adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBRI). Sedangkan selaku arranger ditunjuk PT Danareksa Sekuritas, PT Indopremier Sekuritas, dan PT DBS Vicker Securities Indonesia. 

Sebagai informasi, tahun ini BRI hanya menargetkan pertumbuhan laba 10%-12%. Target itu lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan laba BRI 2013 yang bisa mencapai 15%. Sepanjang semester pertama,  perseroan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 11,72 triliun. Capaian tersebut tumbuh sebesar 17,11% secara year on year. Sumber