BERITA DANAREKSA

Blue Bird Pangkas Target Dana IPO
October 20, 2014 13:57 WIB

Pesimistis penawaran saham perdana tidak terserap pasar, akhirnya PT Blue Bird Group, operator taksi di Indonesia tidak mau ambil risiko besar dan terpaksa menurunkan target perolehan dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) menjadi Rp 2,48 triliun (US$ 200 juta) dari target awal sebesar Rp 3,7 triliun (US$ 307 juta).

Disebutkan, penurunan target perolehan dana IPO seiring dengan kebijakan perseroan menurunkan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO menjadi 376,5 juta lembar saham di harga Rp 6.500 dari rencana sebelumnya sebesar 397,9 juta lembar saham hingga 513,9 juta lembar saham pada kisaran harga Rp 7.200 hingga Rp 9.300,”Kami telah mencapai kesepakatan harga, respon permintaan tidak sebesar yang kami harapkan sebelumnya, tapi kami yakin ini masih on the track," kata Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano Herman di Jakarta, kemarin.

Penawaran umum perdana Blue Bird sedianya dilakukan pada masa 3 hingga 10 Oktober lalu, tapi diperpanjang hingga 14 Oktober dan kembali ditawarkan kemarin. IPO Blue Bird diperkirakan menjadi IPO terbesar tahun ini setelah masa pemilu. Masa penawaran umum ditandai dengan indikasi tingkat harga yang solid. Beberapa jam setelah penawaran perdana lalu, jumlah order telah mencapai lebih dari setengah dana yang ditargetkan meski investor masih melihat tingginya harga penawaran.

Dengan kisaran harga penawaran semula di level Rp 7.200 hingga Rp 9.300, price to earning ratio (PER) perusahaan pada 2015 diperkirakan berlipat menjadi 17,1 hingga 21,1, atau setara nilai pasar US$ 1,3 miliar. Sebagai perbandingan, operator taksi yang telah lebih dulu tercatat di BEI memiliki PER 9,29 bagi Adi Sarana dan 15,79 bagi Express Trasindo.

Marciano menilai, turunnya pasar global menyebabkan pemesanan berturun di detik-detik akhir masa penawaran, sekaligus mempengaruhi antusiasme pemesanan prospektus di awal penawaran,”Sebelum ditawarkan kemarin, banyak manajer keuangan yang belum yakin apa yang akan diharapkan selanjutnya,"ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Blue Bird, Robert Rerimassie sesumbar, saham perdana perseroan bakal terserap pasar ditengah kondisi pasar yang tidak menentu akibat situasi politik yang memanas. Keyakinan mampu diserap pasar, lanjutnya, karena saham Blue Bird dinilai menarik untuk dikoleksi investor baik lokal maupun asing. Meskipun, ada sedikit gangguan kondisi makro ekonomi akibat rencana normalisasi kebijakan bank sentral AS The Fed.

Sementara itu, Direktur Blue Bird Sigit Priawan Djokoseotono juga angkat bicara terkait fluktuasi yang terjadi di pasar saat ini."Dari capital marketyang kita pelajari saham itu bisa naik turun dan ini hal yang biasa. Jadi, kami berusaha sebaik-baiknya saja. Kita juga tidak bisa memprediksi kapan saham naik atau turun. Kondisi market saat ini hanya temporari. Kami optimis IPO kami berhasil dan diserap pasar," tambahnya.

Blue Bird menawarkan harga saham perdana Rp 7.200-Rp 9.300 per saham. Jadi total dana yang akan diraup perseroan dari IPO mencapai Rp 3,82 triliun-Rp 4,94 triliun. Total dana yang diraup dari IPO itu kemungkinan terbesar di pasar modal sepanjang 2014.

Rencananya, dana hasil IPO antara lain digunakan untu belanja modal dan melunasi utang. Pertama, dana hasil IPO sebesar %untuk membeli armada kendaraan, lahan dan bangunan di daerah Jadetabek, Surabaya, Bali, Bandung dan Palembang

Kedua, dana hasil IPO sekitar 35,17% untuk melunasi pinjaman.  Perseroan akan merestrukturisasi pemilikan pinjaman kepada BCA sebesar Rp 400 miliar. Lalu perseroan melunasi pinjaman kredit kepada Bank Permata, DBS, Bank Bukopin, Bank CIMB Niaga, Bank ANZ Indonesia, BCA, dan Bank OCBC NISP."Melalui IPO perseroan akan makin berkomitmen untuk mengembangkan bisnis dan memperkuat posisi kami di bidang jasa transportasi," kata Presiden Direktur PT Blue Bird Tbk, Purnomo Prawiro. Sumber



Lampaui Target, Penjualan ORI011 Capai Rp21.215 Triliun
October 20, 2014 13:50 WIB

Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) menetapkan Penjatahan Obligasi Negara Ritel seri ORI011 kepada individu atau orang perseorangan WNI.

Penerbitan ORI011, dalam pagu indikatif awalnya pemerintah menargetkan penjualan dan penjatahan sebesar Rp20 triliun. Sementara total volume pemesanan pembelian Obligasi Negara seri ORI011 yang ditawarkan pada masyarakat sampai dengan penutupan masa penawaran sebesar Rp21.336 triliun.

Namun sesuai dengan kewenangan yang diberikan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan dengan memperhatikan kebutuhan pembiayaan APBNP 2014 serta minat beli masyarakat terhadap ORI011, Dirjen Pengelolaan Utang, Robert Pakpahan menetapkan hasil penjualan dan penjatahan ORI011 sebesar Rp21.215 triliun.

"Target kita kan Rp20 triliun, namun hasilnya melebihi. Ini hasil yang menggembirakan, membanggakan karena ini murni investor domestik. Apalagi masyarakat individu bukan korporasi," tutur Robert di kantornya, Komplek Perkantoran Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2014).

Sementara itu, penjualan ORI011 dilakukan melalui 21 agen penjualan yang telah ditunjuk oleh pemerintah yakni terdiri dari 18 bank dan tiga perusahaan sekuritas.

Para agen tersebut yakni Citibank, N.A; PT Bank OCBC NISP, Tbk; PT Bank Panin, Tbk; PT Bank Permata, Tbk; PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk; PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Bukopin, Tbk; PT Bank Central Asia, Tbk; dan PT Bank CIMB Niaga, Tbk.

Kemudian PT Bank Danamon Indonesia, Tbk; PT DBS, Tbk; PT Bank Internasional Indonesia, Tbk; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk; PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk; PT Bank UOB Indonesia; Standard Chartered Bank, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited; PT Danareksa Sekuritas; PT Trimegah Sekuritas, Tbk, dan PT Sucorinvest Central Gani. Sumber


"Marketing Sales" 4 Emiten Properti Ini 73% Target
October 16, 2014 09:26 WIB

Empat emiten di sektor properti hingga kuartal III-2014 mencatat pra penjualan(marketing sales) sebesar Rp 12,271 triliun, atau setara dengan 73 persen dari proyeksi marketing sales hingga akhir tahun ini.

Keempat emiten tersebut adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA).

"Berdasarkan jangka menengah dan panjang, prospek sektor properti masih bersinar," kata anails PT Danareksa, Anindya Saraswati dalam risetnya yang dipublikasikan, Rabu (15/9).

Anindya mengatakan, permintaan properti akan tetap bertumbuh, sehingga valuasi empat emiten ini masih cukup atraktif.

Alam Sutera Realty para periode Januari-Setember 2014 mencatat marketing sales Rp 3,432 triliun, atau 69,4 persen dari target sepanjang tahun ini sebesar Rp 4,946 triliun. "Permintaan tanah dan proyek di Alam Sutera terus menguat," kata Anindya.

Riset Danareksa menyatakan, seat ini perseroan mulai merubah segmen menjadi lahan komersial dibandingkan perumahan (residential land). Hal ini terlihat marketing sales Alam Sutera yang hingga kuartal III-2014 disumbangkan lahan komersial sebesar 61 persen dari total marketing sales, disusul proyek apartemen Kota Ayodhia (24 persen).

Sementara marketing sales BSD para sembilan bulan pertama 2014 mencapai Rp 4,7 trilliun, atau naik 4 persen (yoy) di luar penjualan lahan kepada perusahaan patungan. Total marketing salestersebut setara dengan 80,1 persen dari proyeksi sepanjang tahun ini sebesar Rp 5,870 triluin.

Mayoritas marketing sales BSD disumbang penjualan rumah dan tanah yang mencapai 41 persen dari total marketing sales. Adapun secara lokasi, BSD City Serpong merupakan penyumbang terbesar marketing sales mencapai 75 persen dari total.

Adapun Lippo Karawaci belum mengumumkan marketing sales hingga kuartal III-2014. Danareksa memperkirakan, marketing sales grup Liipo tersebut akan mencapai Rp 3,7 triliun mengacu para kinerja semester I-2014 yang mencapai Rp 1,639 triliun.

Danareksa menyatakan, target marketing sales Lippo Karawaci sepanjang tahun ini yang dipatok Rp 4,735 triliun diyakini akan tercapai. Proyek terbaru yang diluncurkan Holland Village akan menghasilkan marketing sales Rp 500 miliar.

Terakhir, marketing sales Metropolitan Land hingga kuartal III-2014 mencapai Rp 439 miliar hasil penjulaan enam proyek residensial. Angka tersebut setara dengan 65 persen dari proyeksi hingga akhir tahun ini sebesar Rp 679 miliar.

Danareksa berharap proyek Metland West City mengkontribusi sekitar 5 persen dari totalmarketing sales tahun ini. Sayangnya perseroan menunda proyek tersebut hingga awal 2015, menunggu nota kesepahaman dengan mitra kerja sama. Sumber