Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Berita Danareksa

Danareksa Market Outlook 2015 : Pasar Obligasi Indonesia
January 15, 2015 16:43 WIB

Pasar obligasi Indonesia pada tahun depan diperkirakan masih akan tertekan akibat adanya ekspektasi kenaikan imbal hasil US Treasury dan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Yudistira Slamet, Head of Debt Research PT Danareksa Sekuritas, ekspektasi kenaikan yield US Treasury pada 2015 akibat peningkatan Fed Funds Rate masih menjadi isu utama yang berasal dari global selain krisis di Eropa.

“Sedangkan dari domestik terdapat isu kenaikan harga BBM bersubsidi yang sangat mempengaruhi yield obligasi pemerintah,” ujarnya, Sabtu (11/10/2014).

Kenaikan harga BBM bersubsidi, lanjutnya, berimplikasi pada tingginya tingkat inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal tersebut dapat memicu Bank Indonesia untuk meningkatkan tingkat suku bunga.

Secara tidak langsung, hal ini menyebabkan required yield yang diminta investor juga meningkat. Selain itu, ekspektasi nilai tukar rupiah yang melemah dapat mendorong adanya foreign outflow dari pasar obligasi Indonesia.

Dalam skenario pertama, paparnya, harga BBM bersubsidi diprediksi tidak mengalami peningkatan dan inflasi akhir tahun 2015 berada di level 4,92%.

Selain itu, BI Rate diperkirakan tetap pada level 7,5% hingga akhir tahun depan dan yield US Treasury mengalami peningkatan akibat kenaikan tingkat suku bunga.

“Dengan asumsi tersebut, yield curve obligasi pemerintah 10 tahun akan berkisar antara 8,45% - 8,95%,” katanya.

Adapun, dalam skenario kedua, harga BBM bersubsidi diperkirakan mengalami peningkatan bertahap setiap dua bulan sekali yang dimulai pada Maret hingga November 2015.

Inflasi pada akhir 2015 diperkirakan berada di level 7,71%, sementara BI Rate tetap di level 7,5% karena inflasi masih di bawah 8%.

Oleh karena itu, dengan skenario kedua tersebut, yield curve obligasi pemerintah bertenor 10 tahun diprediksi akan berada di level 9,5% - 10%. Sumber


Download artikel selengkapnya(913.76 Kb)
Danareksa Market Outlook 2015 : Equity Market Outlook
January 15, 2015 16:22 WIB

Head of Equity Research Danareksa Helmy Kristianto saat acara Market Outlook 2015 di Jakarta, Rabu(14/1/2015).

Dengan tema A Year of Transformation, prospek perekonomian tahun 2015 diperkirakan akan lebih baik. Suku bunga BI Rate diperkirakan masih bertahan di level 7.75 persen dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan sekitar 5,3-5,4 persen.

Sumber

Download artikel selengkapnya(4,461.76 Kb)
Danareksa Market Outlook 2015 :A Year of Transformation
January 15, 2015 16:02 WIB

Jakarta -PT Danareksa (Persero) memprediksi pergerakan nilai tukar rupiah akan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini. Rata-rata posisi dolar AS ada di kisaran Rp 11.750.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memprediksi saat ini nilai tukar rupiah masih berada di titik yang rendah. Sehingga masih ada ruang untuk penguatan.

Direktur Utama Danareksa, Heru D. Adhingrat, menyampaikan tahun 2015 disebut sebagai tahun transformasi karena pergantian pemerintahan selalu diiringi dengan harapan untuk menjadi lebih baik.

Heru juga menyampaikan harapannya agar Kabinet Kerja membawa perubahan yang bermanfaat bagi pelaku pasar modal pada khususnya dan rakyat pada umumnya.

"Dengan neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang diprediksikan juga akan membaik, yang akan berdampak positif pada nilai tukar rupiah maupun pasar modal, maka prospek perekonomian pada tahun 2015 ini diperkirakan akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2014 yang lalu," ujar Direktur Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa di acara Danareksa Market Outlook 2015 dengan tema “A Year of Transformation” di Glass House, The Ritz Calton Hotel Pacific Place, Jakarta, seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (14/1/2015).

"Suku bunga BI rate untuk tahun 2015 diperkirakan masih bertahan di level 7,75%, bahkan berpeluang turun ke 7,50%. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih baik menjadi sekitar 5,

3-5,4%. Inflasi cenderung stabil di sekitar 8%, dan menurun di akhir tahun menjadi sekitar 5%," tambah Purbaya.

Sedangkan Head of Equity Research Danareksa, Helmy Kristanto, mengatakan penguatan makro ekonomi akan membantu menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi perusahaan.

"Kami mempertahankan pandangan positif kami terhadap pasar modal Indonesia di 2015. Lebih lanjut, kami percaya komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur merupakan faktor kunci pertumbuhan pada tingkat mikro," ujar Helmy.

Dengan demikian, Danareksa memperkirakan potensi kenaikan pasar sebesar 13% pada tahun 2015 dengan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir tahun sebesar 5.900 berdasarkan pendekatan top down dengan acuan price to equity ratio 16,2 kali.

"Pendekatan bottom up kami juga menunjukan hasil yang sama," ujarnya.

Sumber


Download artikel selengkapnya(3,540.06 Kb)