Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Berita Danareksa

Danareksa Online Dukung Kegiatan Inklusi Keuangan
October 19, 2016 14:38 WIB

Tahukah Anda, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi relatif stabil dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5% per tahun. Hal ini bisa diartikan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat pun mengalami kemajuan. Alhasil, potensi kebutuhan masyarakat akan manfaat produk dan jasa keuangan pun semakin meningkat.

Melihat kondisi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah aktif dan partisipatif dengan mendukung kegiatan Inklusi Keuangan yang dilakukan Industri Jasa Keuangan (IJK). Program ini memang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dalam memilih dan menggunakan produk serta jasa keuangan bagi masyarakat.

Danareksa Sekuritas pun turut mendukung kegiatan Inklusi Keuangan ini dengan menyediakan beragam produk instrumen investasi pasar modal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat dapat berinvestasi di saham, reksadana atau obligasi.

Untuk mengetahui informasi mengenai produk jasa pasar modal yang dimiliki Danareksa Online, masyarakat cukup datang ke Kantor Cabang Danareksa terdekat. Sesuai dengan tagline Inklusi yaitu, ”Yuk Nabung Saham”, Anda bisa mengetahui detil setiap produk, membuka rekening, bahkan melakukan investasi. Nikmati pula beragam program menarik dari produk-produk yang ada di danareksa Online.

Selain mengunjungi kantor cabang terdekat, Anda juga bisa menghubungi Call Center Danareksa di 1500688 atau melihat langsung di situs resmi dmia.danareksaonline.com


ORI-013
September 29, 2016 09:14 WIB

Pemerintah kembali menerbitkan Obligasi Negara tanpa warkat “Obligasi Negara Republik Indonesia” (ORI) Seri ORI 013 sbb
 
Nama Penerbit
:
Pemerintah Republik Indonesia
Jangka Waktu
:
3 tahun
 
 
Tanggal Jatuh Tempo
:
15 Oktober 2019
Tingkat Kupon
:
·  6,60 %p.a
·  Pembayaran secara periodik setiap bulan
Satuan pembelian
:
·  Minimal Rp 5 Juta dan kelipatannya
·  Maksimum pembelian: Rp. 3.000.000.000,-
Pembeli Pasar Perdana
 
Individu
Nominal Pelunasan
:
At par (100%), Bullet Payment
Pencatatan
:
Bursa Efek Indonesia
Masa Penawaran
:
29 September – 19 Oktober 2016
Settlement pasar perdana(distribusi elektronik)
:
26 Oktober 2016
Tanggal jatuh tempo
:
15 Oktober 2019
Holding Period
:
2 (dua) periode pembayaran kupon dan dapat dipindahbukukan pada tanggal 15 Desember 2016
Pembayaran Kupon Pertama
:
15 November 2016
 
 
Masa penawaran       : 29 September – 19 Oktober 2016  ** sesuai ketersediaan kuota 
 
Pendebetan akan dilakukan pada tanggal  19 Oktober 2016. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Call Center kami di (021) 1500-688


BI Kembali Melonggarkan Kebijakan Moneter dengan Menurunkan BI 7-DayReverse Repo Rate Sebesar 25 bps
September 23, 2016 09:31 WIB

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 September 2016memutuskan untuk menurunkan BI 7-dayReverse Repo Rate  (BI 7-day RR Rate)sebesar 25 bps dari 5,25% menjadi 5,00%, dengan suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps menjadi 4,25% dan Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,75%,berlaku efektif sejak 23 September 2016. Pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan BI 7-day RR Rate tersebut sejalan dengan berlanjutnya stabilitas makroekonomi, yang tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, dan nilai tukar yang relatif stabil.Di tengah masih lemahnya perekonomian global, pelonggaran kebijakan moneter tersebut diharapkan dapat lebih memperkuat upaya untuk mendorong permintaan domestik guna terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia meyakini bahwa pelonggaran kebijakan moneter tersebut akan memperkuat kebijakan yang ditempuh Pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui percepatan implementasi reformasi struktural. Bank Indonesia juga terus berkoordinasi bersama Pemerintah menyiapkan langkah kebijakan agar implementasi UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dapat berdampak optimal bagi perekonomian nasional.

 

Ekonomi global berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya disertai dengan penurunan volume perdagangan dunia yang cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi AS pada 2016 diperkirakan lebih rendah dari perkiraan semula, seiring dengan masih lemahnya investasi. Lemahnya pemulihan ekonomi AS dan masih tingginya ketidakpastian yang membayangi ekonomi AS mengakibatkan dipertahankannya suku bunga kebijakan AS atau Fed Fund Rate (FFR) dan diperkirakan hanya akan mengalami kenaikan satu kali pada tahun 2016. Sementara itu, masih lemahnya aktivitas investasi dan konsumsi di Eropa, semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi Eropa. Potensi pelemahan ekonomi juga dialami Tiongkok, sejalan dengan melambatnya investasi, pengeluaran pemerintah, dan masih lemahnya konsumsi.Di pasar komoditas, harga minyak dunia menurun, sejalan dengan terus meningkatnya produksi minyak OPEC. Sementara itu, harga beberapa komoditas ekspor Indonesia sedikit membaik, terutamaCPO.  

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III2016 masih terjaga dengan baik, meskipuntidak sekuat perkiraan sebelumnya. Berbagai indikator menunjukkan Konsumsi Rumah Tangga masih cukup kuat, sementara investasi nonbangunan terindikasi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Minat investasi swasta diperkirakan masih belum kuat, sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan oleh sektor korporasi sebagai respon pemintaan yang belum sepenuhnya pulih. Sementara itu, stimulus fiskaldiperkirakan masih terbatas, sejalan dengan  penyesuaian belanja  pemerintah pada semester II 2016. Dari sisi eksternal,masih lemahnya ekonomi dan perdagangandunia mengakibatkan perbaikan ekspor masih tertahan, meski harga beberapakomoditas ekspor mulai menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia memandang berbagai langkah masih diperlukan untuk meningkatkan permintaan domestik guna terus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan masih akan berada di kisaran 4,9 - 5,3% (yoy).

 

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada bulan Agustus 2016, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$0,29 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Juli 2016 sebesar US$0,51 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut didorong oleh menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas, antara lain, didorong oleh peningkatan impor bahan baku dan barang modal seperti impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, sertaplastik dan barang dari plastik. Hal ini memberikan indikasi membaiknya aktivitas ekonomi domestik.  Di sisi lain, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia hingga Agustus 2016 telah mencapai 11,1miliar dolar AS, lebih tinggi dari aliran masuk modal asing untuk keseluruhan tahun 2015.Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2016 tercatat sebesar US$113,5 miliar, atau setara 8,7 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

 

Rupiah melemah terbatas pada Agustus 2016, namun kembali menguat di September 2016.  Nilai tukar Rupiah pada Agustus 2016, secara rata-rata, terdepresiasi sebesar 0,39% dan mencapai level Rp 13.163 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah lebihdipengaruhi oleh sentimen eksternal terkaittiming kenaikan FFR paska FOMC minutesJuli 2016. Namun demikian, pada pertengahan September 2016 nilai tukar rupiah kembali menguat sebesar 0,8%. Penguatan tersebut didorong olehmeningkatnya aliran masuk modal asing, seiring dengan meredanya sentimen terkaittiming kenaikan FFR pada September 2016 dan berlanjutnya implementasi UU Pengampunan Pajak. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

 

Inflasi berada pada level yang rendah dan diperkirakan akan berada pada kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1%. Tekanan harga mereda pasca Idul Fitri dan mencatat deflasi sebesar 0,02% (mtm) di bulan Agustus 2016. Deflasi tersebut lebih rendah dari perkembangan harga pada periode pasca Idul Fitri dalam lima tahun terakhir, yang biasanya masih mencatat inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 1,74% (ytd) dan 2,79% (yoy). Deflasi IHK pada bulan Agustus 2016 terutama bersumber dari deflasi komponen volatile foods (VF) dan komponenadministered prices (AP), seiring dengan koreksi harga pasca Idul Fitri. Kelompok VF mencatat deflasi sebesar 0,80% (mtm) atau secara tahunan mencatat inflasi sebesar 5,28% (yoy). Penurunan harga secara bulanan tersebut terutama bersumber dari koreksi harga beberapa komoditas bahan pangan. Kelompok AP mencatat deflasi sebesar 0,52% (mtm) atau 0,91% (yoy), didorong oleh koreksi pada tarif angkutan antar kota, angkutan udara, dan kereta api. Sementara itu, inflasi inti tercatat cukup rendah, yaitu sebesar 0,36% (mtm) atau 3,32% (yoy), sejalan dengan masih terbatasnya permintaan domestik, terkendalinya ekspektasi inflasi dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah. Dengan perkembangan tersebut, inflasi diperkirakan akan mendekati batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016.

 

Sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan yang terjaga. Pada Juli 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 22,9%,  dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,8%. Sementara itu,rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) mengalami peningkatan menjadi sebesar 3,2% (gross) atau 1,5% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit.Namun, transmisi melalui jalur kredit belum optimal, terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih terbatas. Pertumbuhan kredit Juli 2016 tercatat sebesar 7,7% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,9% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2016 tercatat sebesar 5,9% (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya. Bank Indonesia meyakini pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan dapat meningkatkan pertumbuhan kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.

 

Jakarta, 22 September 2016

Departemen Komunikasi

 

Tirta Segara

Direktur Eksekutif