Live Chat Software
Berita Dan Riset Terbaru
Reksadana

Tampung Dana Tax Amnesty,18 Manajer Investasi Bergerak Cepat
July 29, 2016 16:54 WIB

Para manajer Investasi yang masuk dalam kriteria penampung dana repatriasi tax amnesty bergerak cepat untuk menyiapkan instrumen investasi yang akan ditawarkan kepada investor.

Berdasarkan seleksi yang digelar secara tertutup oleh Otoritas Jasa Keuangan, sebanyak 18 dari 84 manajer investasi dinilai memenuhi kriteria sebagai pintu masuk (gateway) dana repatriasi kebijakan pengampunan pajak yang mulai berlaku pada Senin (18 Juli 2016).

Ke-18 manajer investasi yang akan ditunjuk itu di antaranya adalah Schroder Investment Management Indonesia, Eastspring Investment dan Manulife Aset Manajemen Indonesia. Selain itu ada Bahana TCW Investment Management, Mandiri Manajemen Investasi, BNP Paribas Investment, Batavia Prosperindo Aset Manajemen, dan Danareksa Investment.

Ada juga BNI Asset Management, Panin Asset Management, Ashmore Asset Management, Sinarmas Asset Management, Trimegah Asset Management dan Syailendra Capital. Terakhir ada PNM Investment Management, Ciptadana Asset Management, Bowsprit Asset Management, dan Indosurya Asset Management.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 118/2016 tentang Pengampunan Pajak, dana repatriasi tax amnesty wajib diinvestasikan di Indonesia minimal selama tiga tahun. Dana repatriasi dan hasil investasinya wajib dilaporkan secara berkala setiap enam bulan selama tiga tahun.

Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Edward P. Lubis menyebutkan ada lima kriteria yang harus dipenuhi para MI penampung dana repatriasi tax amensty. Kriteria tersebut, yakni merupakan BUMN atau anak perusahaan pelat merah, masuk daftar 10 MI dengan dana kelolaan terbesar.

Selain itu, MI harus mengelola RDPT sektor riil dengan dana kelolaan minimal Rp 200 miliar, mengelola DIRE, dan tidak terkena sanksi administratif berupa pembatasan kegiatan usaha oleh OJK dalam satu tahun terakhir. 



Asosiasi Pengelola Reksa Dana Kejar 5 Juta Investor
May 17, 2016 15:53 WIB

Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menargetkan 5 juta investor reksa dana hingga 2017. Target tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan jika dibandingkan posisi investor saat ini yang baru mencapai 260 ribu investor.

Ketua APRDI Denny R Taher? mengaku untuk mengejar target tersebut memang membutuhkan tenaga ekstra.

"Investor baru kami tidak spesifik. Kami ada road map memang asosiasi punya target itu jumlahnya 5 juta sampai akhir 2017. Tapi untuk ke sana memang perlu kerja keras lagi," kata dia, di Jakarta, Rabu (27/1/2016).
?

Namun begitu, pihaknya cukup optimistis. Ia menuturkan, masyarakat tetap mencari tempat investasi untuk menaruh uangnya. Hal tersebut tentu tak bergantung dari kondisi pasar yang cenderung fluktuatif.



Gerakan Sadar Investasi Untuk Kaum Hawa oleh Danareksa
November 05, 2014 15:37 WIB

Inflasi dan kenaikan harga, inilah alasannya mengapa kita tidak hanya cukup dengan menyimpan uang dalam bentuk tabungan saja. Tetapi juga harus dengan investasi. Demikian pesan Lisa Soemarto, pakar finansial dan investasi, dalam talk show bertajuk Money Talks: Investing with Style for Women, yang digelar oleh PT Danareksa Investment Management (DIM).

INVESTING danareksa

Lewat acara tersebut, Danareksa berusaha membangun kesadaran calon investor pemula khususnya kaum hawa untuk mengerti pentingnya berinvestasi. Sebab perempuan yang sadar akan investasi, berarti dia berpotensi mandiri secara finansial untuk dirinya sendiri, ikut membantu perekonomian pasangan dan keluarga, dan juga turut menyokong tercapainya tujuan pembangunan nasional.

Menurut Lisa, dengan penghasilan yang terbatas, namun di sisi lain berbagai biaya hidup seperti harga makanan, perumahan, pendidikan, kesehatan, kendaraan, dsb, terus melambung pesat, menurutnya menabung saja tidaklah cukup, sebab akan tergerus arus inflasi. “Kenapa harus investasi dan bukan hanya dengan menabung? Sebab kita butuh uang kita ikut bekerja, terutama untuk melawan inflasi dan kenaikan harga,” kata Lisa.

Lebih lanjut Lisa menjelaskan, investasi harus segera dilakukan tanpa menunggu dana terkumpul banyak atau usia tua. Sebab jika tidak segera dilakukan, maka kita hanya akan berputar dan terjebak dalam aktivitas harian yang menghabiskan waktu dan uang dalam serangkaian aktivitas tidak terencana.

“Harus berani keluar dari zona nyaman dengan menukar budaya konsumtif saat ini, menjadi berinvestasi sebagai gaya hidup baru. Jangan sampai di ujung masa produktif nanti, kita menyesal karena kita tidak punya dana yang memadai, misalnya untuk dana pendidikan anak atau tabungan hari tua,”
ungkap Lisa.

Pengamat ekonomi Aviliani, yang juga turut hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan bahwa saat ini seiring dengan awal pemerintahan baru, menjadi waktu prospektif untuk memulai berinvestasi. Pasalnya, pelaku pasar dan dunia investasi tengah optimis menatap masa depan. Di sisi lain, perlu diakui bahwa pasar modal kita masih dikuasai oleh investor asing, sehingga harusnya muncul kesadaran dalam diri masyarakat untuk aktif dan bergairah sebagai investor lokal. “Perempuan menjadi sosok penting, sebab biasanya perempuan sejak di tingkat keluarga, berperan sebagai pengambil keputusan dalam aktivitas konsumsi dan investasi,” tegas Aviliani.

Prihatmo Hari Mulyanto, Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (DIM), menjelaskan bahwa reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang bisa dipilih, khususnya bagi para investor pemula yang tidak memiliki banyak waktu. Reksa dana cenderung praktis dan simpel, karena agen atau manajer investasi yang akan membantu calon investor memilihkan jenis reksa dana sesuai profil risikonya. DIM sendiri kini menyediakan pilihan produk reksa dana yang beragam, sesuai dengan preferensi investor. Salah satu yang menjadi unggulan saat ini adalah layanan perencana keuangan premium bernama Sapphire. DIM juga menyediakan fasilitas investasi reksa dana secara reguler, dengan sistem autodebet rekening tabungan yang bekerja sama dengan bank BCA.

Lebih jauh Prihatmo juga menyampaikan harapan yang sama, agar gerakan sadar investasi ini menjadi sebuah gaya hidup yang relevan bagi masyarakat Indonesia, dan harus terus disosialisasikan oleh berbagai pemangku kepentingan secara lebih masif sejak dini. “DIM sendiri akan terus menggulirkan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya perempuan, mengenai pentingnya investasi. Edukasi ini bertujuan agar perempuan dapat meningkatkan produktivitas, kualitas hidup, dan kemandirian ekonomi, melalui peningkatan wawasan, keterampilan, dan perluasan akses di bidang investasi,” katanya. Sumber